USS Hornet bukan sekadar kapal tua. Ia adalah saksi bisu momen paling menentukan dalam sejarah militer AS — termasuk misi pengeboman Tokyo pada 1942 dan pendaratan Apollo 11 di Pasifik. Kini, kapal yang sudah pensiun sejak 1970 itu justru terancam kehilangan tempat berlabuh permanennya.
Pemerintah Kota Alameda, yang mengelola dermaga tempat USS Hornet bersandar, tengah menekan kenaikan biaya sewa secara signifikan. Pengelola museum kapal, yang sepenuhnya bergantung pada tiket masuk dan donasi, mengaku tak mampu membayar tarif baru yang diajukan.
"Kami ingin tetap di sini. Tapi jika tidak ada kompromi, kami harus pergi," kata juru bicara USS Hornet Museum kepada media lokal. Tidak ada kutipan langsung lebih lanjut yang tersedia dalam bahan berita ini.
Memindahkan kapal seberat 27.100 ton bukan pekerjaan murah. Estimasi 100 juta dolar AS mencakup biaya kapal tunda, survey jalur pelayaran, hingga perbaikan lambung yang mungkin diperlukan setelah bertahun-tahun diam di satu tempat. Bandingkan dengan pendapatan tahunan museum yang hanya sekitar 5 juta dolar AS — angka ini membuat opsi pindah hampir mustahil.
Para sejarawan dan veteran mengkhawatirkan nasib koleksi di dalamnya. USS Hornet menyimpan puluhan pesawat tempur era Perang Dunia II dan Perang Vietnam, termasuk F4U Corsair dan A-4 Skyhawk. Jika kapal dipindahkan, risiko kerusakan pada artefak sangat tinggi.
Alameda sendiri sudah kehilangan dua kapal museum sebelumnya — USS Oriskany dan USS Enterprise (CV-6) — yang berakhir dijual sebagai besi tua atau ditenggelamkan sebagai terumbu karang buatan. USS Hornet adalah satu-satunya yang tersisa di Teluk San Francisco.
Pertarungan ini bukan sekadar soal uang. Ini soal apakah Amerika Serikat masih peduli pada warisan maritimnya. Jika USS Hornet pergi, ia mungkin tak akan pernah kembali — dan sejarah yang dibawanya akan ikut tenggelam bersama ombak.