JAWA BARAT — KM Mutiara Persada III mengalami mati mesin saat tengah berlayar dari Pelabuhan Cigading, Cilegon, menuju Pelabuhan Panjang, Lampung Selatan, pada Kamis (14/5). Kapal mengangkut 179 penumpang pria dan puluhan truk logistik. Gangguan terjadi pada pukul 09.00 WIB di koordinat 05°47.862? LS / 105°33.083? BT, atau sekitar satu jam setelah kapal meninggalkan dermaga.
Kapal berangkat pukul 04.15 WIB. Empat jam 45 menit kemudian, mesin utama atau Main Engine (ME) mendadak tidak berfungsi. Kapal oleng tanpa tenaga di tengah Selat Sunda, jalur padat lintas Sumatera-Jawa.
Polda Banten melalui Kasubdit Patroli Airud, Kompol Lis Handaya, menyatakan pihaknya langsung mengerahkan KN GOLOK-P.206. “Setelah menerima informasi itu, KN GOLOK-P.206 langsung menjalankan operasi SAR dan evakuasi penumpang sebagai bentuk keselamatan pelayaran,” ujarnya.
Selain penumpang, kapal membawa 11 truk Golongan V B, 54 truk Golongan VI B, dan 28 truk Golongan VII B. Muatan ini menambah bobot kapal dan mempersulit proses evakuasi. Belum ada laporan rinci mengenai kerusakan mesin, namun kegagalan ME pada kapal feri di jalur padat seperti Selat Sunda berpotensi memicu tabrakan atau keterlambatan rantai pasok logistik.
Evakuasi berlangsung dengan memindahkan seluruh penumpang ke kapal lain. Proses ini memakan waktu hingga lima jam karena kondisi cuaca dan volume kendaraan yang diangkut. Tidak ada korban luka maupun laporan barang hilang.
Insiden ini menambah daftar panjang gangguan teknis pada kapal feri di perairan strategis tersebut. Selat Sunda merupakan jalur utama distribusi barang dan mobilitas penumpang antara Pulau Jawa dan Sumatera. Setiap gangguan operasional, sekecil apa pun, berdampak langsung pada jadwal pengiriman dan aktivitas ekonomi di kedua wilayah.
Polda Banten dan Basarnas masih melakukan investigasi penyebab pasti mati mesin. Dugaan sementara mengarah pada kegagalan sistem bahan bakar atau komponen mesin yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan rutin. Otoritas pelabuhan di Cigading dan Panjang diminta memperketat inspeksi teknis sebelum kapal berlayar.
Penumpang diimbau tetap tenang dan mengikuti instruksi kru. Jangan panik atau mencoba menurunkan sekoci tanpa arahan. Simpan barang berharga di tempat aman dan bersiaplah untuk proses evakuasi yang bisa memakan waktu lama, terutama jika kapal membawa muatan kendaraan berat.
Penumpang yang mengalami kerugian akibat keterlambatan atau pembatalan perjalanan dapat mengajukan klaim ke perusahaan asuransi pelayaran atau melalui maskapai kapal. Simpan tiket, dokumen perjalanan, dan catat nomor lambung kapal. Jika kapal terdaftar di asosiasi angkutan laut, biasanya ada skema kompensasi yang diatur dalam kontrak penumpang.