Pencarian

Proyek Migas Blok Tuna di Natuna Kembali Digarap Juni 2026, Zarubezhneft RI-Rusia Berkomitmen

Sabtu, 16 Mei 2026 • 14:53:53 WIB
Proyek Migas Blok Tuna di Natuna Kembali Digarap Juni 2026, Zarubezhneft RI-Rusia Berkomitmen
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung bertemu Zarubezhneft untuk membahas kelanjutan proyek Blok Tuna di Natuna.

JAWA BARAT — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung bertemu langsung dengan petinggi Zarubezhneft di Kazan, Rusia, pekan lalu. Pertemuan itu membahas kesiapan perusahaan BUMN Rusia tersebut menggarap kembali Blok Tuna yang mangkrak.

"Zarubezhneft menyatakan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni bulan depan. Pemerintah akan memberikan dukungan untuk kelanjutan proyek ini," kata Yuliot dalam keterangan resmi di laman Kementerian ESDM, Jumat (15/5/2026).

Blok Tuna sendiri merupakan aset strategis di Laut Natuna. Zarubezhneft masuk ke Indonesia sejak 2020 setelah mengakuisisi 50 persen participating interest (PI) proyek ini melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd.

Tak hanya menghidupkan Blok Tuna, perusahaan asal Rusia itu juga menyatakan minatnya menggarap proyek migas lain di Indonesia. Mereka mengusung teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan reaktivasi sumur idle untuk mengejar target produksi nasional.

Dari Tuna ke Proyek Baru: Rusia Incar Sumur Idle

Ketertarikan Zarubezhneft berinvestasi di Indonesia sebenarnya sudah tercatat dalam dokumen Agreed Minutes Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 RI-Rusia. Dalam pertemuan di Kazan, delegasi Rusia juga meminta dukungan penyelesaian proses compliance bagi perusahaan yang dinominasikan untuk memulai suplai minyak ke Indonesia.

"Pihak Rusia juga meminta dukungan penyelesaian proses compliance bagi perusahaan-perusahaan yang dinominasikan oleh Zarubezhneft guna memulai pengorganisasian suplai minyak ke Indonesia," ungkap Yuliot.

Di sisi lain, Kementerian ESDM tengah bersiap melelang 10 blok migas baru dalam ajang IPA Convex 2026 pekan depan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyebut blok-blok tersebut tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Papua, hingga Sumatera.

Insentif Baru untuk Menggoda Investor

Pemerintah menawarkan skema kontrak yang lebih fleksibel demi menarik investor asing. Salah satunya, pembagian split kontrak kerja sama kontraktor (KKKS) bisa mencapai 50 persen — jauh lebih besar dari skema sebelumnya yang hanya 15-30 persen.

Investor juga bisa memilih sistem kontrak cost recovery atau gross split sesuai kebutuhan proyek. Ditambah pembebasan pajak tidak langsung (indirect tax) pada masa eksplorasi.

Sepuluh area potensial yang siap ditawarkan meliputi Rupat, Puri, Karapan Baru, Pesut Mahakam, Bengara II, Maratua II, South Matindok, Lao-Lao, Rombebai, hingga Northern Papua/Jayapura. Semua wilayah ini telah lolos studi mendalam oleh Badan Geologi dan LEMIGAS.

Kombinasi kepastian proyek Blok Tuna dan insentif baru diharapkan mampu mengejar target produksi migas nasional di tengah ketatnya persaingan investasi energi global.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks