JAWA BARAT — VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyatakan lonjakan antrean di sejumlah SPBU terjadi karena kenaikan permintaan yang signifikan, diperkuat perubahan pola konsumsi dan pembelian masyarakat secara bersamaan.
Respons Cepat Pertamina Patra Niaga di Lapangan
Untuk merespons peningkatan permintaan tersebut, Pertamina Patra Niaga meningkatkan penyaluran, mengoptimalkan operasional SPBU, serta memperkuat distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Langkah konkret yang dijalankan antara lain mengoperasikan mobil tangki selama 24 jam untuk mempercepat pengiriman dan pengisian stok BBM di SPBU. Perusahaan juga melakukan rekonfigurasi kapasitas pelayanan melalui penambahan nozzle Pertalite di sejumlah SPBU.
Di Makassar, sebanyak 25 SPBU dioperasikan selama 24 jam. Penguatan operasional ini dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat.
Antisipasi Kebutuhan di Tiap Wilayah
Pertamina Patra Niaga terus mengantisipasi peningkatan kebutuhan melalui penyesuaian penyaluran dan penguatan distribusi sesuai kondisi masing-masing wilayah. Pemantauan intensif terhadap stok, penyaluran, dan kondisi operasional SPBU dilakukan secara berkala.
Penyesuaian distribusi dilakukan untuk memastikan pasokan BBM tersedia di titik-titik yang membutuhkan. Dengan begitu, masyarakat di wilayah dengan permintaan tinggi tidak perlu menunggu lama saat mengisi bahan bakar.
Imbauan ke Masyarakat
Kitty mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Menurutnya, pola konsumsi yang wajar akan membuat pelayanan berjalan lancar dan merata.
"Kami terus melakukan monitoring dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga kelancaran pasokan. Kami mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar pelayanan dapat berjalan lancar dan merata," ujar Kitty, Sabtu (12/9/2026).
Langkah Pertamina Patra Niaga ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi di Sulawesi Selatan, terutama di tengah kenaikan permintaan BBM bersubsidi yang terjadi sejak pertengahan 2026.