JAWA BARAT — Surat penugasan tertanggal 12 Agustus 2026 itu ditandatangani Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan ditujukan langsung kepada direktur utama Len Industri. Mandatnya mencakup pelaksanaan program secara terkoordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait, plus kewajiban melaporkan perkembangan secara berkala kepada presiden melalui Kementerian Sekretariat Negara.
Dasar penunjukan ini adalah arahan Presiden dalam Rapat Terbatas 14 Juli 2026. Saat itu kepala negara meminta Len Industri mengambil alih peran pelaksana demi mewujudkan kemandirian industri otomotif nasional dan memperkuat hilirisasi industri.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, memastikan posisi Len dalam program ini saat rapat bersama Komisi VII DPR RI, Kamis (10/9).
"PT Len ini akan menjadi nantinya lead integrator dari program Motor Listrik Nasional," kata Setia.
Peran lead integrator membuat Len menangani desain dan riset pengembangan, manufaktur dan perakitan, sampai penyediaan stasiun pengisian daya. Seluruh rantai kerja itu berada dalam satu ekosistem yang hampir semuanya melibatkan Danantara.
Berdasarkan materi pemaparan Setia di hadapan Komisi VII, pembagian kerja ekosistem Molinas sudah tersusun. Produksi baterai ditangani Indonesia Battery Corporation (IBC), sementara distribusi lewat bengkel dan layanan aftersales menggandeng Koperasi Merah Putih bersama sejumlah BUMN. Untuk pendanaan dan pembiayaan, pemerintah menunjuk PT Sarana Multi Infrastruktur.
Setia menyebut keterlibatan pemain baterai global dalam ekosistem ini sudah memasuki tahap fisik. "Battery nanti akan melibatkan CATIB dan CATL yang saat ini sudah selesai dibangun di Karawang," paparnya.
Len Industri tidak memulai dari nol. Perusahaan pelat merah itu sedang mengembangkan motor trail listrik bernama Electrical Bike Sprint, yang diklaim dirancang, diuji, dan dirakit di dalam negeri.
Sprint dibekali motor elektrik 3.000 Watt. Klaim pabrikan, motor ini mampu menempuh jarak hingga 60 kilometer dengan kecepatan puncak 80 km per jam.
Angka tersebut menempatkan Sprint di segmen motor listrik performa menengah, bukan skuter komuter murah. Posisinya berbeda dari produk listrik yang sudah beredar di pasar lokal, yang umumnya bermotor 1.000–2.000 Watt dengan jarak tempuh 40–50 kilometer.
Penunjukan Len sebagai pelaksana Molinas menandai perubahan pendekatan pemerintah: dari sekadar insentif kendaraan listrik menjadi pembangunan ekosistem industri yang dikelola BUMN. Eksekusinya kini bergantung pada koordinasi lintas kementerian, Danantara, dan mitra baterai di Karawang.