JAWA BARAT — Dominasi BUMN dalam daftar perusahaan terbesar di Indonesia kembali terlihat tahun ini. Dari total pendapatan Fortune Indonesia 100 2026, lebih dari separuhnya berasal dari 19 entitas BUMN yang masuk daftar. Angka pendapatan gabungan mereka setara dengan sekitar 13 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional yang tercatat Rp 23.821,1 triliun pada 2025.
Pertamina tak tergeser dari posisi puncak dengan pendapatan Rp 1.189,74 triliun, tumbuh 9,9 persen dibanding tahun sebelumnya. PLN menyusul di posisi kedua dengan pendapatan Rp 582,68 triliun atau naik 6,8 persen.
Kejutan terjadi di posisi ketiga. BRI berhasil menyalip Astra International untuk pertama kalinya dengan membukukan pendapatan Rp 324,33 triliun, melesat 19,5 persen. Sebelumnya, empat besar selalu dihuni oleh Pertamina, PLN, Astra International, dan BRI selama empat tahun berturut-turut.
Posisi kelima ditempati Bank Mandiri dengan pendapatan Rp 212,97 triliun, disusul MIND ID di peringkat keenam dengan Rp 159,46 triliun. Telkom Indonesia berada di urutan ketujuh dengan pendapatan Rp 146,74 triliun, meski tercatat turun 2,2 persen.
Editor-in-Chief Fortune Indonesia Hendra Soeprajitno mengatakan standar untuk masuk daftar perusahaan terbesar terus meningkat. Pada edisi 2026, perusahaan harus membukukan pendapatan minimal Rp 12,31 triliun berdasarkan kinerja 2025, naik 7,85 persen dari tahun sebelumnya.
"Pertumbuhan topline belum otomatis diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba," kata Hendra dalam keterangannya.
Dari 100 perusahaan yang masuk daftar, sekitar 66 persen mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Namun hanya 49 perusahaan yang berhasil menaikkan laba bersih, sementara 51 lainnya justru mengalami penurunan.
Di luar jajaran atas, kinerja BUMN lain cukup variatif. Pupuk Indonesia tumbuh 10,8 persen dan BTN mencatat pertumbuhan 18,6 persen. Jasa Marga naik 4,1 persen, Pelindo tumbuh 5,4 persen, dan Krakatau Steel naik tipis 0,6 persen.
Sebaliknya, sejumlah BUMN mencatat penurunan cukup dalam. Wijaya Karya terkoreksi 30,8 persen, PT PP turun 17,9 persen, dan Hutama Karya melemah 16,9 persen. InJourney turun 6,4 persen dan Garuda Indonesia terkoreksi 5,9 persen.
Hendra menambahkan, perubahan posisi di jajaran puncak menunjukkan bahwa status perusahaan terbesar bukanlah sesuatu yang permanen. "Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahkan di antara perusahaan-perusahaan dengan skala terbesar sekalipun, posisi di puncak bukanlah sesuatu yang permanen," ujarnya.
Sejak edisi perdana yang menggunakan kinerja 2021, ambang batas pendapatan untuk masuk Fortune Indonesia 100 naik hampir 46 persen dari Rp 8,41 triliun menjadi Rp 12,31 triliun. Artinya, pertumbuhan "tiket masuk" daftar ini mencapai sekitar 10 persen per tahun secara rata-rata majemuk (CAGR).