JAWA BARAT — Upaya pencegahan stunting tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan peran aktif banyak pihak, mulai dari orang tua, tenaga kesehatan, hingga kader Posyandu yang menjadi garda terdepan dalam memantau tumbuh kembang balita. Menyadari hal ini, mahasiswa KKN Tematik Stunting Universitas Hasanuddin (UNHAS) Gelombang 116 yang bertugas di Kelurahan Ujung Lare, Kota Parepare, mengambil langkah nyata dengan membagikan buku saku khusus kepada para kader.
Buku saku ini bukan sekadar selebaran biasa. Disusun langsung oleh Sahnaz Shafira Alfianti, mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, buku ini dirancang agar mudah dipahami dan praktis dibawa kapan saja. Materinya mencakup pemahaman dasar tentang apa itu stunting, faktor-faktor penyebabnya, hingga dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai orang tua.
Yang terpenting, buku ini juga memuat langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan langsung oleh keluarga. Dengan bahasa yang ringkas, kader diharapkan bisa menyerap informasinya dengan cepat lalu menyampaikannya kembali ke masyarakat dengan cara yang lebih sederhana.
Kader Posyandu punya posisi strategis karena mereka berinteraksi langsung dengan orang tua balita setiap bulan. Sayangnya, tidak semua kader memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Karena itu, kehadiran media edukasi seperti buku saku ini sangat membantu mereka dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan, terutama soal pentingnya memenuhi gizi anak di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pembagian buku saku ini dilakukan langsung di Posyandu Flamboyan 1 pada 10 Agustus 2026. Para kader yang hadir tidak hanya menerima buku, tetapi juga mendapat penjelasan singkat tentang cara menggunakan dan memanfaatkan isi buku tersebut saat melakukan kunjungan rumah atau kegiatan posyandu.
Kabar baiknya, program ini tidak berhenti di Posyandu Flamboyan 1 saja. Sebagai bagian dari keberlanjutan program kerja, mahasiswa KKN UNHAS berencana membagikan buku saku serupa ke tiga posyandu lainnya di Kelurahan Ujung Lare. Hal ini dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh para kader dan masyarakat di wilayah tersebut.
Langkah ini menunjukkan bahwa edukasi pencegahan stunting memang harus dilakukan secara konsisten dan menyentuh akar rumput. Dengan membekali kader, diharapkan informasi tentang gizi dan pola asuh yang benar bisa tersebar lebih merata, sehingga angka stunting di Parepare bisa terus ditekan.
Sambil menunggu program dari pemerintah dan mahasiswa KKN menjangkau lingkungan sekitar, ada beberapa hal sederhana yang bisa ibu lakukan untuk mencegah stunting sejak dini:
Edukasi dan pemantauan yang rutin adalah kunci utama. Dengan informasi yang tepat dan dukungan dari lingkungan sekitar, para ibu bisa lebih percaya diri dalam mendampingi tumbuh kembang si kecil menuju generasi yang sehat dan bebas stunting.