JAKARTA — Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah, yang dikenal sebagai El Nino, tengah melanda Indonesia dan menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan. Kondisi ini diperburuk oleh IOD positif, sehingga memicu musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa perubahan iklim global menjadi faktor utama meningkatnya frekuensi kejadian El Nino. Jika pada periode 1950 hingga 1970 siklusnya terjadi setiap 5 hingga 7 tahun, kini frekuensinya meningkat menjadi setiap 2 hingga 3 tahun sekali.
Kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi mengganggu ketersediaan air serta produktivitas sektor pangan. Dwikorita menekankan pentingnya langkah mitigasi dari seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghadapi dampak kekeringan ini.
“Kami menghimbau masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, mengatur tata kelola air dengan bijak, dan beradaptasi dengan pola tanah yang ada,” tegas Dwikorita dalam keterangannya.
Meskipun kondisi kering mendominasi, BMKG melihat adanya titik terang. Masuknya angin monsun dari arah Asia yang mulai terjadi pada November diperkirakan akan mengakhiri fase kemarau kering secara bertahap.
“Alhamdulillah karena adanya angin monsun dari arah Asia sudah masuk mulai November, jadi insya allah akan mulai turun hujan di bulan November,” ungkap Dwikorita. Ia menambahkan bahwa pengaruh El Nino akan mulai tersapu oleh hujan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kering ini. Masyarakat diminta selalu memperbarui informasi cuaca melalui saluran resmi BMKG.
Hingga saat ini, BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan mengimbau pengelolaan sumber daya air dilakukan secara efisien demi menjaga ketahanan pangan nasional.