BANDUNG — BMKG Stasiun Bandung mencatat awal musim kemarau di Jawa Barat tahun ini tidak seragam. Sebagian besar wilayah, termasuk Bandung Raya, baru memasukinya pada Juni, mundur sekitar 7 persen dari normalnya yang seharusnya terjadi pada Mei. Namun, wilayah utara seperti Bekasi dan Karawang justru mengalami kemajuan awal musim hingga 66 persen.
Forecaster BMKG Bandung, Neneng Sugianti, menjelaskan bahwa faktor utama di balik kondisi ini adalah El Nino yang intensitasnya terus menguat. Pada Juli 2026, status El Nino menuju kategori kuat dan diprediksi mencapai level sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober.
"Jadi iklim di Indonesia itu dipengaruhi oleh berbagai fenomena ya, ada global, regional, dan lokal. Salah satu contohnya kalau untuk faktor globalnya ada El Nino atau La Nina, kemudian suhu permukaan Laut, kemudian topografi," ujar Neneng di Bandung, Senin (20/7/2026).
Puncak kemarau bervariasi antar wilayah. Bandung Raya dan sebagian besar Jabar puncaknya pada Agustus. Sebagian kecil wilayah Jawa Barat Timur dan Tengah pada Juli, sementara sekitar 2 persen wilayah utara termasuk Indramayu mengalami puncak pada September.
Dampak paling nyata dari musim kemarau yang lebih kering ini adalah terhadap ketersediaan air bersih. Potensi kelangkaan air tanah akibat minimnya curah hujan disebut bisa terjadi. Sektor pertanian juga terancam karena pengurangan curah hujan secara signifikan akan mengganggu pasokan air untuk lahan.
Meski mayoritas wilayah Jabar berada di bawah normal atau lebih kering, ada sekitar 7 persen wilayah yang diprediksi masih dalam kondisi normal. Dua daerah yang disebutkan adalah Indramayu dan Cirebon. Namun, secara umum, karakteristik kemarau tahun ini tetap lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini dipengaruhi El Nino yang intensitasnya terus menguat. Pada bulan Juli, statusnya menuju kuat, dan di prediksi akan mencapai kategori kuat hingga sangat kuat pada periode Agustus, September dan Oktober," kata Neneng.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal atau lebih panjang, untuk mulai menghemat penggunaan air. Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan langkah antisipasi, seperti pendistribusian air bersih dan pemantauan titik rawan kebakaran hutan dan lahan.
Dengan dominasi El Nino yang kuat, potensi bencana kekeringan meteorologis perlu diwaspadai, terutama di daerah yang bergantung pada sumur dangkal dan tadah hujan.