JAWA BARAT — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, menjadikannya salah satu negara dengan frekuensi gempa tertinggi di dunia. Sayangnya, edukasi mitigasi bencana belum merata di semua lapisan masyarakat. Padahal, langkah sederhana seperti merunduk dan berlindung bisa menyelamatkan nyawa.
Metode yang direkomendasikan oleh badan penanggulangan bencana internasional saat gempa terjadi adalah drop, cover, and hold on. Langkah pertama, merunduk ke lantai untuk mengurangi risiko terjatuh. Kedua, berlindung di bawah meja atau furnitur kokoh untuk melindungi kepala dan leher dari benda jatuh. Ketiga, berpegangan pada tempat berlindung hingga guncangan benar-benar berhenti.
Menjauhi jendela, lemari tinggi, rak buku, dan benda lain yang berpotensi roboh juga wajib dilakukan. Pecahan kaca dan material bangunan yang jatuh menjadi penyebab utama cedera serius saat gempa.
Jika berada di gedung bertingkat, jangan sekali-kali menggunakan lift saat gempa terjadi. Gangguan listrik akibat guncangan dapat membuat lift berhenti mendadak dan menjebak penumpang di dalamnya. Gunakan tangga darurat, namun hanya setelah guncangan selesai dan kondisi dinyatakan aman oleh petugas gedung atau otoritas setempat.
Bagi yang sedang mengemudi, kurangi kecepatan secara bertahap dan hentikan kendaraan di tempat yang aman. Hindari berhenti di bawah jembatan, terowongan, kabel listrik, atau bangunan tinggi. Tetap berada di dalam kendaraan hingga guncangan berakhir.
Setelah gempa utama berhenti, ancaman belum sepenuhnya berlalu. Gempa susulan atau aftershock kerap terjadi dan bisa berlangsung dalam hitungan jam hingga hari. Periksa kondisi bangunan apakah mengalami retak atau kerusakan struktural. Segera keluar jika ada potensi ambruk.
Langkah pasca-gempa yang tak kalah penting adalah mematikan aliran listrik dan gas jika ditemukan kebocoran. Ikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, atau pemerintah daerah. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, karena hoaks pasca-bencana kerap menyulitkan proses evakuasi dan penanganan darurat.
Pengetahuan mitigasi bencana perlu diajarkan sejak usia dini, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Simulasi evakuasi secara rutin dapat membangun refleks dan mengurangi kepanikan saat gempa benar-benar terjadi. Semakin sering berlatih, semakin besar peluang untuk selamat.
Pemerintah daerah di wilayah rawan gempa diimbau untuk mengalokasikan anggaran khusus untuk program edukasi dan simulasi bencana. Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan investasi jangka panjang dalam keselamatan warga.