TASIKMALAYA — Irmansyah, pengamat sosial ekonomi masyarakat, menyebut ada kesenjangan antara narasi pertumbuhan ekonomi yang diklaim positif dengan kenyataan yang dihadapi warga di lapangan. Menurut dia, indikator yang tampak baik di atas kertas belum otomatis berdampak pada kesejahteraan kelompok masyarakat bawah.
Salah satu faktor yang disebut Irmansyah memperparah kondisi adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dampaknya langsung terasa pada kenaikan biaya impor bahan baku dan kebutuhan pokok, yang kemudian memicu kenaikan harga di pasar.
“Begitu rupiah melemah, biaya produksi naik. Dampaknya berantai ke harga barang dan akhirnya daya beli masyarakat makin tertekan,” ujar Irmansyah, Jumat (12/6/2026).
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memperburuk situasi. Biaya transportasi dan distribusi yang membengkak membuat harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik di berbagai daerah, termasuk di Priangan timur.
Persoalan ketenagakerjaan juga menjadi sorotan. Meski data resmi menunjukkan penurunan angka pengangguran, Irmansyah menilai banyak pencari kerja masih kesulitan mendapatkan pekerjaan formal yang layak. Jumlah lowongan yang terbatas tidak sebanding dengan tingginya angka pencari kerja setiap tahun.
“Banyak yang akhirnya bekerja di sektor informal seperti pedagang kecil, pekerja lepas, atau pengemudi daring. Ini lebih ke bertahan hidup daripada membangun masa depan,” katanya.
Ia menambahkan, penciptaan lapangan kerja formal dari sektor industri dan investasi belum optimal. Kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja juga masih menjadi hambatan.
Irmansyah turut menyoroti sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, tujuan program tersebut baik, namun dampak ekonomi langsung di tingkat desa dan UMKM belum terasa signifikan.
“Dampaknya di tingkat desa dan UMKM belum terlalu terasa. Padahal harapannya ada efek berganda bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya dari angka pertumbuhan nasional. “Ukuran ekonomi bagi masyarakat sederhana: apakah kerja lebih mudah didapat, apakah pendapatan cukup untuk hidup, dan apakah masa depan terasa lebih pasti,” tegas Irmansyah.