JAWA BARAT — PT Pertamina (Persero) resmi menurunkan harga dua produk solar nonsubsidi di wilayah Jabodetabek per 1 Juni 2026. Dexlite (CN 51) kini dibanderol Rp 23.000 per liter, turun dari posisi bulan lalu yang mencapai Rp 26.000 per liter. Sementara Pertamina Dex (CN 53) turun dari Rp 27.900 menjadi Rp 24.800 per liter.
Namun, harga Pertamax Turbo (RON 98) justru naik. BBM dengan oktan tinggi itu kini dijual Rp 20.750 per liter, lebih mahal Rp 850 dibandingkan harga Mei 2026 yang sebesar Rp 19.900 per liter.
Adapun Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) masih ditahan di level masing-masing Rp 12.300 per liter dan Rp 12.900 per liter. Harga ini bertahan sejak Maret 2026, sebelum konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mempengaruhi pasar energi global. Untuk BBM subsidi dan penugasan, Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Di SPBU swasta, pergerakan harga juga terlihat. BP Indonesia mempertahankan harga BP 92 di Rp 12.390 per liter. Namun, BP Ultimate naik tipis Rp 10 dari Rp 12.920 menjadi Rp 12.930 per liter. Sementara untuk solar, BP Ultimate Diesel turun cukup signifikan dari Rp 25.560 menjadi Rp 25.060 per liter.
Shell Indonesia, yang saat ini hanya menjual satu jenis BBM diesel di SPBU-nya, mematok harga V-Power Diesel di angka Rp 24.490 per liter untuk wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Aturan tersebut merupakan perubahan dari Kepmen ESDM sebelumnya yang mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM umum. Fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi dua variabel utama yang mempengaruhi pergerakan harga di SPBU setiap bulannya.
Dengan perubahan harga ini, konsumen di segmen solar nonsubsidi bisa sedikit bernapas lega. Namun, pengguna Pertamax Turbo yang biasa mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina harus merogoh kocek lebih dalam per liternya.