JAWA BARAT — PSG mengangkat trofi Si Kuping Besar untuk kedua kalinya dalam sejarah klub, setelah mengalahkan lawannya di partai final yang berlangsung di stadion netral. Tim asuhan Luis Enrique tampil solid sepanjang turnamen, membuktikan bahwa proyek jangka panjang klub lebih kuat dari ketergantungan pada satu pemain bintang.
Pertandingan final berjalan ketat sejak menit awal. Kedua tim saling jual beli serangan, namun lini pertahanan PSG yang digalang Marquinhos dan Skriniar tampil disiplin.
Gol tunggal kemenangan tercipta di babak kedua melalui skema serangan balik cepat. Umpan terobosan dari Vitinha berhasil dituntaskan oleh penyerang anyar PSG yang menjadi pahlawan di laga puncak tersebut.
PSG mencatatkan penguasaan bola mencapai 58 persen sepanjang 90 menit. Namun, efektivitas serangan menjadi kunci kemenangan mereka.
Tanpa Mbappe, PSG mengandalkan permainan kolektif dengan rotasi pemain yang dinamis. Luis Enrique berhasil meramu skuad menjadi mesin sepak bola yang efisien.
"Kami tidak lagi bergantung pada satu pemain untuk menyelesaikan pertandingan. Ini adalah kemenangan tim," ujar Luis Enrique dalam konferensi pers usai laga.
Gelar ini mempertegas posisi PSG sebagai salah satu kekuatan dominan di Eropa. Keberhasilan mempertahankan performa puncak tanpa Mbappe menjadi bukti nyata kedalaman skuad dan visi manajemen klub.
PSG kini menjadi tim kedua asal Prancis yang berhasil meraih dua gelar Liga Champions, menyamai pencapaian Marseille. Musim depan, mereka akan menjadi tim yang paling diwaspadai di kompetisi antarklub Eropa.