BOGOR — Program pengolahan sampah berbasis teknologi Waste to Energy (WTE) terus digodok Pemerintah Kota Bogor. Fasilitas ini disebut bakal lebih bersih dari TPA karena mampu mereduksi emisi gas metan yang selama ini menjadi masalah utama di tempat pembuangan akhir.
Pada TPA terbuka, tumpukan sampah organik membusuk dan melepas gas metan (CH4) yang 25 kali lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida. Teknologi WTE justru membakar sampah pada suhu tinggi dan mengubahnya menjadi energi listrik.
Proses pembakaran terkontrol itu disebut mampu menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Selain menghasilkan listrik, volume sampah yang tersisa setelah pembakaran juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan metode penimbunan di TPA.
Pemerintah Kota Bogor tengah mematangkan kajian untuk merealisasikan fasilitas ini. WTE menjadi salah satu opsi utama mengatasi darurat sampah yang kerap melanda kota tersebut, terutama ketika TPA Galuga dan TPA lainnya mengalami kelebihan kapasitas.
Pembangunan WTE membutuhkan investasi yang tidak kecil. Namun, dalam jangka panjang, teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan ketimbang sistem open dumping yang masih banyak dipraktikkan di berbagai daerah di Jawa Barat.
Salah satu kekhawatiran utama warga yang tinggal di sekitar lokasi calon pembangunan WTE adalah polusi udara dari cerobong asap. Pihak pemkot mengklaim teknologi yang akan digunakan telah dilengkapi filter emisi modern sehingga partikel berbahaya dapat diminimalkan.
Jika berjalan sesuai rencana, WTE Bogor tidak hanya mengurangi volume sampah yang menggunung, tetapi juga memasok listrik ke jaringan PLN. Keberhasilan proyek ini bisa menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi persoalan sampah serupa.
Apakah WTE sama dengan insinerator biasa?
Tidak. Insinerator biasa hanya membakar sampah tanpa menghasilkan energi. WTE dirancang untuk mengubah panas hasil pembakaran menjadi turbin listrik, sehingga lebih efisien dan bernilai ekonomi.
Apakah abu sisa pembakaran WTE berbahaya?
Abu sisa pembakaran WTE (fly ash dan bottom ash) memang mengandung logam berat, sehingga harus dikelola secara khusus. Namun, volumenya hanya sekitar 10-15 persen dari volume sampah awal, jauh lebih kecil dibandingkan residu di TPA.