BOGOR — Rencana serangan militer AS ke Iran yang dijadwalkan pada Selasa (18/3) batal dilaksanakan. Dalam unggahan di platform Truth Social, Senin (17/3), Donald Trump mengungkapkan bahwa penundaan dilakukan atas permintaan tiga pemimpin negara Teluk.
"Saya telah diminta oleh Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman Al Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran," tulis Trump.
Menurut Trump, para pemimpin negara Teluk meyakini pembicaraan yang tengah berlangsung saat ini masih membuka peluang tercapainya kesepakatan yang bisa diterima semua pihak. "Menurut mereka, selaku Pemimpin dan Sekutu yang Hebat, sebuah kesepakatan akan tercapai," tambah Trump dalam pernyataannya.
Meski menunda operasi militer, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Iran. Ia menegaskan bahwa jika negosiasi gagal mencapai hasil yang memuaskan, AS siap melancarkan serangan besar-besaran.
Hingga kini belum diketahui secara pasti bentuk terobosan yang sedang dibahas dalam negosiasi tersebut. Namun, isu utama yang menjadi sorotan adalah program nuklir Iran yang selama ini menjadi perhatian Washington dan sekutunya.
"Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, TIDAK AKAN ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!" tegas Trump dalam unggahannya.
Keputusan penundaan serangan ini sekaligus menunjukkan meningkatnya peran negara-negara Teluk dalam meredam potensi konflik besar di kawasan. Qatar, Arab Saudi, dan UEA selama ini dikenal sebagai sekutu utama AS di Timur Tengah, namun juga memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang kompleks dengan Iran.
Situasi masih terus dipantau dunia internasional mengingat ketegangan antara Washington dan Teheran berpotensi memengaruhi stabilitas global, termasuk sektor energi dan keamanan kawasan. Harga minyak dunia sempat berfluktuasi menyusul rumor rencana serangan tersebut sebelum akhirnya Trump mengumumkan penundaan.