JAWA BARAT — Nurlaela (38) dan suaminya, Endi Sunarya (41), adalah generasi kedua yang meneruskan usaha Batagor Gembira. Bisnis ini pertama kali dirintis oleh orang tua Nurlaela saat merantau dari Malangbong, Garut, ke Jakarta pada 1984. Kala itu, sang ayah berjualan menggunakan gerobak sederhana di depan kantor PLN Depok.
Nama "Gembira" bukanlah pemberian pemilik, melainkan dari pelanggan setia. “Dulu dari anak-anak UI yang suka beli, katanya karena kalau makan batagor bapak setelahnya jadi gembira,” kenang Nurlaela.
Titik balik usaha ini terjadi pada 2017. Saat sang ayah berangkat ibadah haji, Nurlaela dan suami diberi amanah penuh untuk mengelola bisnis. Sebelumnya, pasangan ini sempat bekerja sebagai karyawan kantoran, namun pendapatan dirasa tak cukup. “Enakkan usaha kayaknya, dapatnya bisa setiap hari,” ujar Nurlaela.
Seiring waktu, Batagor Gembira tak lagi hanya bergantung pada satu gerobak. Kini, usaha tersebut telah memiliki 7 titik penjualan yang tersebar di berbagai lokasi di Depok, antara lain di Jalan Flamboyan, Jalan Dadap, Jalan Majapahit, Jalan Angin Mamiri, dan SD Bina Insani.
Gerobak di depan PLN Depok bahkan buka 24 jam tanpa libur, termasuk saat Lebaran. Sementara gerobak di samping TipTop di Jalan Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, buka setiap hari kecuali hari besar. “Puncak ramainya itu 2 minggu setelah Lebaran, istilah kami meraup uang,” canda Nurlaela.
Untuk memenuhi permintaan, Batagor Gembira kini mempekerjakan 12 karyawan yang mayoritas berasal dari Garut, Banten, dan Bogor. Dalam sehari, tak kurang dari 200 porsi batagor dengan harga rata-rata Rp15.000 per porsi berhasil terjual.
Kesuksesan Batagor Gembira menarik minat banyak orang untuk belajar. Sunarya menceritakan, tak sedikit calon pengusaha yang datang langsung ke rumah untuk mengikuti kursus meracik batagor secara penuh. Namun, tak semua bertahan. “Paling cobaannya itu, kan namanya jualan enggak mungkin selalu ramai setiap hari. Kebanyakan pada enggak kuat di situ,” ujar Sunarya.
Ia mencontohkan, pernah ada peserta dari Garut yang bolak-balik belajar selama 6 bulan, namun akhirnya berhenti di tengah jalan karena tak tahan menghadapi masa sepi pelanggan. Menurutnya, mentalitas dan kesabaran menjadi kunci utama bagi perintis UMKM.
Dari yang semula mengontrak, keluarga Nurlaela kini telah memiliki rumah sendiri. Usaha ini juga mulai merambah pesanan online melalui Grabfood, dengan nilai sekali pesanan mencapai Rp300-600 ribu, terutama untuk kemasan bahan mentah yang dijual kembali.