JAWA BARAT — Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Budy Kurniawan, mengonfirmasi korban meninggal setelah tim medis darurat melakukan resusitasi jantung paru (RJP) di lokasi kejadian. “Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban langsung dibawa turun oleh tim rescue menuju Puskesmas Sembalun,” ujar Budy dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (15/5/2026).
Endang memulai pendakian melalui jalur Sembalun pada Kamis (14/5/2026) pagi bersama rombongan, dua orang guide, dan seorang porter. Cuaca hujan deras memaksa rombongan berhenti dan berteduh di Pos 4. Sekitar pukul 16.00 Wita, hujan mulai reda dan mereka melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun.
Namun, baru 15 menit berjalan, Endang membuka jas hujannya, menunduk, lalu terjatuh pingsan. Seorang dokter yang kebetulan sedang mendaki di lokasi yang sama segera memberikan pertolongan pertama. Tim gabungan TNGR dan Emergency Medical Handling Center (EMHC) berkoordinasi untuk melakukan evakuasi dan penanganan medis, tetapi nyawa korban tak tertolong.
Gunung Rinjani, dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, memiliki karakter cuaca yang cepat berubah, terutama di jalur Sembalun yang terkenal terbuka tanpa pepohonan. Perubahan suhu drastis dari hujan deras ke kondisi lembap setelah hujan reda dapat memicu hypothermia atau gangguan pernapasan pada pendaki yang kelelahan.
Korban diketahui membuka jas hujan sesaat setelah hujan reda. Langkah ini, meskipun terlihat sepele, kerap menjadi pemicu hilangnya panas tubuh secara tiba-tiba (afterdrop) saat tubuh masih basah dan angin gunung bertiup. Kondisi ini bisa memicu gagal napas, terutama pada pendaki dengan kondisi fisik yang sudah menurun setelah berjam-jam mendaki.
Kasus kematian akibat gagal napas dan hypothermia di Rinjani bukanlah yang pertama. Sepanjang 2024–2025, setidaknya tercatat lima insiden serupa di jalur Sembalun dan Torean. Sebagian besar korban adalah pendaki yang nekat melanjutkan perjalanan saat cuaca buruk atau tidak membawa perlengkapan anti-hujan yang memadai.
Balai TNGR sendiri telah menerapkan sistem registrasi dan pembatasan kuota pendaki, serta mewajibkan setiap rombongan memiliki guide bersertifikat. Namun, faktor cuaca ekstrem yang sulit diprediksi dan kondisi fisik individu tetap menjadi variabel yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh otoritas taman nasional.
Apakah cuaca ekstrem di Rinjani sudah bisa diprediksi?
BMKG Stasiun Klimatologi NTB rutin merilis peringatan dini cuaca untuk kawasan Rinjani. Pendaki wajib mengecek prakiraan cuaca tiga hari ke depan sebelum memulai pendakian. Otoritas TNGR juga berhak menutup jalur jika cuaca dianggap membahayakan.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala hypothermia atau sesak napas di jalur?
Segera berhenti, cari tempat berteduh, ganti pakaian basah, dan minum air hangat. Jangan memaksakan diri untuk terus berjalan. Tim EMHC TNGR siaga 24 jam di pos-pos pendakian dan bisa dihubungi melalui frekuensi radio yang disediakan di setiap pos.