SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung Jadi Pusat Pengembangan Sekolah Maung, Pemprov Jabar Perbesar Jalur Prestasi

Penulis: Okta Nugraha  •  Kamis, 14 Mei 2026 | 13:25:00 WIB
SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung resmi ditetapkan sebagai pusat pengembangan Sekolah Maung oleh Pemprov Jabar.

BANDUNG — Pemprov Jawa Barat memutuskan menjadikan SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung sebagai pusat pengembangan Sekolah Maung. Keputusan itu menjadikan Kota Bandung sebagai satu-satunya daerah di provinsi ini yang mendapat jatah dua sekolah dalam program unggulan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, membenarkan penunjukan kedua sekolah tersebut. “Untuk SMA satu kabupaten kota satu, kecuali Bandung ada dua, SMA 3 dan 5 pengecualian, kemudian untuk SMK satu cabang dinas itu satu,” ujarnya.

Total 41 Sekolah Negeri Jadi Pusat Pengembangan

Secara keseluruhan, ada 41 sekolah negeri yang telah dipilih menjadi pusat pengembangan Sekolah Maung. Komposisinya terdiri dari 28 SMA dan 13 SMK yang ditargetkan mulai menerima peserta didik pada tahun ajaran 2026/2027.

Purwanto menjelaskan, penentuan sekolah dilakukan berdasarkan usulan Kantor Cabang Dinas (KCD) Disdik Jabar di masing-masing wilayah. Proses verifikasi kemudian dilakukan oleh tim bentukan pemerintah provinsi sebelum ditetapkan dalam SK Gubernur.

Alasan Dedi Mulyadi: Kualitas Sekolah Negeri Unggulan Terus Menurun

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku meluncurkan program ini karena melihat kualitas sekolah unggulan negeri di Jawa Barat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi itu semakin parah sejak sistem zonasi diterapkan.

“Yang lahiran tahun 90-an pasti tahu. Setiap kabupaten/kota itu pasti ada sekolah favorit, biasanya SMA 1. Kalau di Bandung, SMA 3 dan SMA 5. Seiring dengan waktu, dengan diberlakukan zonasi, tingkat kualifikasi sekolah terus mengalami penurunan tajam,” kata Dedi.

Ia bahkan mendapat masukan langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengenai kondisi tersebut. “Di Jawa Barat sekolah yang punya kualifikasi sebagai sekolah unggul itu tinggal SMA 3. Yang lainnya sudah didominasi swasta,” ujarnya menirukan pernyataan wamen.

Dampak Zonasi: Sekolah Negeri Kehilangan Daya Saing

Dedi menyebut penurunan kualitas itu dipengaruhi lemahnya daya dukung sekolah, menurunnya pembiayaan, hingga turunnya kualitas akademik siswa yang masuk. Jika dibiarkan, ia khawatir sekolah negeri unggulan akan kehilangan daya saing.

“Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD,” katanya.

Ia mencontohkan, tingkat kemampuan siswa yang masuk ITB dari SMAN 3 Bandung mengalami penurunan tajam. “Ini kan perlu bahan kajian komprehensif,” lanjut Dedi.

Jalur Prestasi Diperbesar, Zonasi Dikurangi

Lewat Sekolah Maung, Pemprov Jabar ingin mengembalikan pola sekolah unggulan berbasis prestasi akademik dan non-akademik. Dedi menegaskan, jalur prestasi akan mendapat porsi lebih besar dibanding zonasi.

“Prestasi akademiknya harus diperluas, kemudian non-akademiknya diperbesar. Non-akademik itu misalnya kemampuan seni, kemampuan olahraga, kemampuan-kemampuan lain yang itu mampu membangun keunggulan manusia,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan bagi sekolah swasta agar siswa dari keluarga menengah ke bawah tetap memiliki akses pendidikan berkualitas.

Status Nama Sekolah Masih Menunggu Restu Kemendikdasmen

Terkait penggantian nama sekolah menjadi Sekolah Maung, Pemprov Jabar saat ini masih menunggu persetujuan perubahan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

“Iya (namanya menjadi Sekolah Maung) nanti kita akan usulkan ke kementerian. Kita kalau diizinkan oleh kementerian akan melakukan itu,” kata Purwanto. “Itu tergantung kementerian, karena ini kan sifatnya program,” sambungnya.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top