KOTA BOGOR — Organisasi profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI) memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan membedah karya-karya terbaik jurnalisme visual tanah air. Diskusi bertajuk "Bedah Foto Pemenang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026" ini berlangsung di Hotel Bianco Costel. Acara tersebut menjadi ruang refleksi krusial atas kondisi kebebasan pers saat ini.
Diskusi menghadirkan Fauza Syahputra, pewarta foto Katadata peraih predikat Photo of the Year APFI 2026. Ia didampingi Chadeer Mahyudin, pewarta foto AFP biro Jakarta sekaligus pemenang kategori Nature & Environment. Kehadiran keduanya memberikan gambaran nyata mengenai dinamika peliputan isu sensitif di Indonesia.
Kedua fotografer menguliti pengalaman teknis serta emosional saat terjun ke lokasi konflik. Mereka memaparkan perjuangan menembus akses informasi demi menjaga integritas visual di tengah kepungan disinformasi masif. Baginya, setiap bingkai foto membawa beban tanggung jawab moral yang besar kepada publik.
Aspek keamanan menjadi poin krusial mengingat jurnalis foto kerap berdiri di garis depan yang rawan represi fisik maupun intimidasi digital. PFI juga menghadirkan dua juri APFI 2026, yakni Mast Irham dan Arie Basuki. Kehadiran para senior ini memperkaya perspektif mengenai perlindungan awak media di lapangan.
Keduanya melontarkan sudut pandang kritis mengenai standar etika yang wajib dipatuhi setiap pewarta foto. Langkah ini bertujuan agar setiap karya tetap objektif dan mampu dipertanggungjawabkan secara profesional. Etika menjadi benteng terakhir jurnalis dalam menghadapi tekanan dari berbagai pihak.
Sesi bedah karya ini menegaskan kembali peran jurnalis foto sebagai penjaga sejarah bangsa. Visual bukan sekadar estetika, melainkan instrumen vital dalam menyuarakan kebenaran serta merawat kebebasan berekspresi di Indonesia. Melalui dokumentasi yang jujur, demokrasi diharapkan tetap berdiri tegak.