Jhanghiz Syahrivar Jadi Guru Besar Termuda LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat

Penulis: Fauzan Arifin  •  Minggu, 03 Mei 2026 | 10:03:10 WIB
Jhanghiz Syahrivar resmi menjadi Guru Besar termuda LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten.

CIKARANG — Jhanghiz Syahrivar resmi menyandang gelar Guru Besar termuda di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV yang menaungi wilayah Jawa Barat dan Banten. Pencapaian akademisi muda ini menjadi tonggak sejarah baru bagi ekosistem pendidikan tinggi di Jawa Barat.

Jhanghiz merupakan alumnus President University angkatan 2005 yang berhasil menuntaskan jenjang pendidikan tinggi dengan catatan gemilang. Ia meraih predikat cum laude pada jenjang S1, disusul predikat magna cum laude saat menempuh S2 di Universitas Tarumanagara. Puncaknya, ia menyelesaikan program doktoral di Corvinus University of Budapest, Hungaria, melalui beasiswa Stipendium Hungaricum.

Di Hungaria, Jhanghiz mencatatkan rekor sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang lulus doktor di kampus tersebut dalam waktu kurang dari empat tahun dengan predikat summa cum laude. Rekam jejak ini memperkuat posisinya sebagai salah satu pakar pemasaran muda yang diperhitungkan di tingkat nasional.

Hanya Tiga Persen Dosen Indonesia Raih Gelar Profesor

Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., menyebut raihan gelar Guru Besar di usia muda merupakan sebuah anomali yang luar biasa dalam dunia akademik. Menurutnya, proses untuk mencapai level ini memerlukan dedikasi dan konsistensi riset yang sangat tinggi.

“Dari sekitar 333 ribu dosen di Indonesia, hanya sekitar 12 ribu yang berhasil menjadi Guru Besar, atau sekitar 3 persen saja. Ini menunjukkan bahwa pencapaian ini sangat luar biasa,” ujar Lukman saat memberikan apresiasi dalam pengukuhan tersebut.

Rektor President University, Handa Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., menilai pengukuhan ini membuktikan kualitas lulusan perguruan tinggi lokal yang mampu bersaing di level global. Ia menyoroti perjalanan Jhanghiz yang kembali ke almamaternya sebagai seorang profesor setelah 18 tahun lulus.

Kritik Tajam Praktik Greenwashing dalam Pemasaran

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Jhanghiz memberikan kritik tajam terhadap pergeseran nilai dalam dunia pemasaran modern. Ia menolak pandangan konvensional yang hanya melihat pemasaran sebagai alat untuk mendulang keuntungan finansial semata tanpa mempertimbangkan aspek moral.

“Melalui mekanisme pasar, beban moral didistribusikan, makna sosial diproduksi, dan relasi kuasa dilembagakan dalam bentuk yang sering kali tampak wajar,” jelas Jhanghiz dalam orasinya.

Ia menyoroti maraknya praktik manipulatif seperti greenwashing atau klaim palsu ramah lingkungan yang dilakukan perusahaan demi menarik simpati konsumen. Selain itu, Jhanghiz mengingatkan bahaya eksploitasi sentimen sosial dan agama yang kerap dijadikan senjata pemasaran untuk meraup untung secara instan.

Tantangan Etika bagi Akademisi Generasi Z

Jhanghiz mendorong akademisi dari Generasi Z dan para praktisi bisnis untuk segera memperbarui paradigma pemasaran mereka. Fokus dunia usaha harus mulai bergeser dari sekadar mengejar profitabilitas menuju tanggung jawab sosial yang adil dan transparan.

Pendekatan etis ini dianggap sangat krusial bagi pasar Indonesia yang memiliki karakteristik budaya dan religiusitas yang kuat. Tanpa integritas moral, disiplin ilmu pemasaran hanya akan menjadi alat efisiensi yang hampa dan berpotensi merusak tatanan sosial.

“Jika pemasaran diajarkan dan dipraktikkan tanpa keberanian moral, ia akan menjadi disiplin yang efisien tapi hampa. Namun, jika dibangun di atas tanggung jawab sosial dan etika, pemasaran dapat menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam membentuk masa depan bangsa,” tutup Jhanghiz.

Reporter: Fauzan Arifin
Back to top