Laporan keuangan perusahaan teknologi seringkali menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan, bahkan bagi pengamat senior sekalipun. Microsoft baru saja merilis data pendapatan kuartalan mereka, namun ada yang berbeda dari cara perusahaan pimpinan Satya Nadella ini menyajikan angka-angkanya. Divisi More Personal Computing (MPC) yang biasanya didominasi Windows, kini menunjukkan wajah yang sangat berbeda.
Pada kuartal terbaru, divisi MPC berhasil meraup pendapatan sebesar 13,2 miliar dolar AS atau setara Rp211,2 triliun (kurs Rp16.000). Angka ini mencakup Windows, Xbox, perangkat Surface, hingga iklan pencarian Bing. Namun, bagi pengguna dan investor di Indonesia, pertanyaan besarnya adalah: seberapa besar kontribusi masing-masing produk ini sekarang?
Dulu, Windows adalah raja di laporan keuangan Microsoft. Namun, sejak Agustus 2024, Microsoft mengubah cara mereka menghitung pendapatan. Pendapatan dari lisensi Windows untuk perusahaan (Windows Commercial) kini dipindahkan ke kategori Productivity and Business Processes, bergabung bersama ekosistem Microsoft 365.
Langkah ini membuat angka pendapatan Windows yang tersisa di divisi MPC terlihat jauh lebih kecil dari biasanya. Analis memperkirakan sekitar tiga perempat pendapatan Windows berasal dari sektor bisnis. Dengan dipindahnya angka tersebut, kontribusi Windows "murni" di kategori konsol dan PC konsumen diperkirakan menyusut hingga sepertiga dari nilai aslinya.
Estimasi kasar menunjukkan bahwa pendapatan Windows kini mungkin hanya berada di kisaran 3 miliar dolar AS (sekitar Rp48 triliun). Angka ini jauh di bawah ekspektasi lama, bukan karena penjualannya lesu, melainkan karena strategi akuntansi yang memprioritaskan integrasi layanan awan (cloud) daripada sekadar penjualan sistem operasi ritel.
Di sisi lain, divisi gaming Microsoft atau Xbox menunjukkan taringnya. Setelah resmi mengakuisisi Activision Blizzard senilai 69 miliar dolar AS tahun lalu, pundi-pundi uang dari sektor ini melonjak tajam. Game populer seperti Call of Duty kini menjadi mesin uang baru bagi Microsoft.
Berikut adalah estimasi rincian pendapatan dalam divisi More Personal Computing Microsoft:
Jika angka ini akurat, maka Xbox kini secara resmi menyumbang hampir separuh dari total pendapatan divisi konsumen Microsoft. Ini menandakan pergeseran identitas Microsoft yang kini lebih terlihat sebagai perusahaan hiburan dan media daripada sekadar penyedia perangkat lunak perkantoran.
Satu hal yang cukup mengecewakan bagi penggemar perangkat keras adalah keputusan Microsoft menggabungkan pendapatan Surface ke dalam kategori "Windows OEM and Devices". Strategi ini membuat performa penjualan tablet Surface Pro atau laptop Surface Laptop menjadi sangat sulit dilacak secara spesifik.
Meskipun Surface adalah perangkat premium dengan harga mahal, kontribusinya diperkirakan hanya berada di kisaran 1 miliar dolar AS. Di pasar Indonesia, di mana produk Surface seringkali masuk melalui jalur distributor tidak resmi atau impor terbatas, ketidaktransparan ini menunjukkan bahwa Microsoft mungkin tidak lagi menjadikan perangkat keras sebagai fokus pertumbuhan utama mereka.
Bagi konsumen di Indonesia, perubahan strategi finansial ini memberikan sinyal kuat tentang arah masa depan Microsoft. Fokus mereka kini bukan lagi menjual lisensi Windows satu per satu kepada pengguna rumahan, melainkan mendorong ekosistem langganan seperti Xbox Game Pass dan Microsoft 365.
Kita bisa melihat bagaimana promosi PC Game Pass di Indonesia sangat masif dengan harga yang kompetitif. Ini sejalan dengan data keuangan yang menunjukkan bahwa gaming adalah motor penggerak baru perusahaan. Windows kini diposisikan sebagai "pintu masuk" menuju layanan berlangganan, bukan lagi sebagai produk akhir yang berdiri sendiri.
Transparansi yang berkurang dalam laporan keuangan ini mungkin mengaburkan angka pasti penjualan laptop. Namun, satu hal yang pasti: Microsoft kini lebih peduli pada berapa banyak orang yang bermain game dan menggunakan AI Bing daripada berapa banyak kotak Windows yang terjual di toko komputer.