JAWA BARAT — Tesla memastikan penjualan Cybercab kepada pelanggan umum dimulai akhir 2026, meski kendaraan otonom dua tempat duduk tanpa setir dan pedal itu masih diselidiki regulator keselamatan Amerika Serikat. Produksi awal tetap diprioritaskan untuk armada robotaxi Tesla sendiri, dengan penjualan ritel menyusul secara terbatas saat skala produksi naik.
Wakil Presiden Bidang Teknik Tesla Lars Moravy menyampaikan target penjualan ritel Cybercab dalam panggilan konferensi bersama analis. Pernyataan Moravy dilaporkan Tech Crunch, Kamis (22/10/2026), menegaskan bahwa perusahaan belum mengubah jadwal komersialisasi meski penyelidikan regulator berjalan.
Unit Cybercab yang keluar dari lini produksi saat ini seluruhnya dialokasikan untuk armada taksi otonom Tesla. Moravy menyebut penjualan ke konsumen perorangan baru dibuka setelah volume produksi meningkat.
Artinya, pembeli umum tidak bisa serta-merta memesan Cybercab dalam waktu dekat. Tesla memilih menguji kendaraan di jaringan robotaxi miliknya sendiri lebih dulu sebelum melepasnya ke pasar ritel.
Cybercab dirancang sebagai kendaraan otonom penuh dengan dua tempat duduk. Tidak ada kemudi maupun pedal di kabin, berbeda dari mobil konvensional yang dijual saat ini.
Konfigurasi tanpa kontrol manual inilah yang memicu pertanyaan regulator AS. Lembaga keselamatan menilai apakah desain tersebut memenuhi standar kendaraan bermotor yang berlaku, terutama soal prosedur darurat dan tanggung jawab saat sistem otonom gagal.
Tesla belum merinci bagaimana Cybercab memenuhi ketentuan keselamatan tersebut. Perusahaan juga tidak menyebut regulator mana yang sedang melakukan penyelidikan dalam laporan tersebut.
Strategi bertahap ini masuk akal dari sisi operasional. Dengan menjual terbatas, Tesla bisa mengumpulkan data berkendara nyata dari pelanggan tanpa harus memikul beban armada besar sekaligus.
Pendekatan serupa pernah dipakai Tesla saat memperkenalkan fitur bantuan mengemudi di kendaraan konsumen. Perusahaan mengandalkan umpan balik pengguna untuk memperbaiki sistem lewat pembaruan perangkat lunak.
Namun Cybercab berbeda kelas. Kendaraan ini tidak punya pengemudi manusia sebagai cadangan, sehingga toleransi terhadap kesalahan sistem jauh lebih kecil.
Jika target akhir 2026 terwujud, Cybercab menjadi salah satu kendaraan otonom penuh pertama yang dijual langsung ke konsumen di pasar Amerika Serikat. Langkah ini sekaligus menguji seberapa jauh regulasi keselamatan negara tersebut siap menerima mobil tanpa kemudi.
Bagi pasar Indonesia, rencana Tesla belum berdampak langsung. Regulasi kendaraan otonom di dalam negeri masih dalam tahap pengkajian, dan kendaraan tanpa setir belum masuk kerangka uji tipe yang berlaku.
Yang patut dicermati justru arah industrinya. Keputusan Tesla mengejar jadwal komersialisasi di tengah penyelidikan menunjukkan pabrikan makin agresif mendorong kendaraan otonom ke jalan umum, bukan lagi sekadar proyek uji coba.