CIANJUR — Kepala Bidang Tanaman DTPHP Cianjur Dandan Hendayana menyatakan hasil GKG Cianjur saat ini menempati peringkat keempat di Jawa Barat. Pihaknya telah memetakan jaringan irigasi yang membutuhkan perbaikan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Cianjur.
Langkah itu diambil untuk mengantisipasi potensi panjangnya fenomena El Nino hingga awal 2027. Ketersediaan air bagi petani menjadi fokus utama agar produksi padi tetap berjalan.
Dandan menjelaskan, pemetaan jaringan irigasi dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk mendukung ketersediaan air bagi petani dan menjaga keberlangsungan produksi padi.
"Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung ketersediaan air bagi petani dan menjaga keberlangsungan produksi padi di Kabupaten Cianjur, dimana saat ini hasil GKG Cianjur masuk dalam peringkat ke empat di Jabar," katanya.
Selain perbaikan irigasi, DTPHP mengoptimalkan program yang telah tersedia di bidang irigasi. Dukungan pemerintah pusat berupa bantuan pompa air juga disiapkan untuk mengantisipasi kekeringan.
Menurut Dandan, gangguan akibat kekeringan diperkirakan hanya sekitar satu persen. Angka itu dinilai tidak akan menyebabkan penurunan produksi secara drastis.
"Dari sisi dampak terhadap produksi, kami menilai tidak terlalu signifikan, gangguan yang diperkirakan hanya sekitar satu persen sehingga tidak menyebabkan penurunan produksi secara drastis," katanya.
Data Juni 2026 mencatat sekitar 201 hektare lahan pertanian di Cianjur yang terancam kekeringan. Mitigasi dan koordinasi dengan berbagai instansi terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan persawahan.
DTPHP berupaya agar kekeringan tidak terlalu mengganggu pelaksanaan musim tanam pertama pada periode Oktober hingga Desember 2026. Koordinasi dengan BBWS dan PUTR Cianjur diarahkan pada pemetaan jaringan irigasi yang membutuhkan perbaikan.
"Pelaksanaannya dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait, guna menghadapi potensi kemarau yang berkepanjangan, dimana koordinasi dilakukan dengan BBWS dan PUTR Cianjur untuk memetakan jaringan irigasi yang membutuhkan perbaikan," ujar Dandan.
Capaian 645.522 ton GKG hingga September 2026 menjadi modal Cianjur mempertahankan posisi keempat di Jawa Barat. Perbaikan irigasi dan bantuan pompa air akan menentukan sejauh mana musim tanam pertama bisa berjalan sesuai jadwal.