PSSI Ancam Klub Kurangi Poin Jika Suporter Kembali Anarkis

Penulis: Ridho Pratama  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:49:31 WIB
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan ancaman pengurangan poin kepada klub di Kantor Kemenpora, Selasa (13/10).

JAWA BARAT — PSSI mengancam menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada klub yang suporternya melakukan tindakan anarkis. Ancaman itu muncul setelah dua insiden penyerangan bus di Tol Batang dan Tol Palikanci dalam dua hari berturut-turut, Minggu (11/10/2026) dan Senin (12/10).

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan ancaman tersebut di Kantor Kemenpora, Selasa (13/10). Federasi menilai suporter belum sepenuhnya berkomitmen menciptakan iklim sepakbola yang kondusif.

Dua insiden jadi pemicunya. Penyerangan terhadap bus tim EPA Persib terjadi di Tol Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026). Sehari kemudian, bus rombongan suporter Persija Jakarta, The Jakmania, diserang di Tol Palikanci usai pulang dari Yogyakarta.

Pengurangan Poin Jadi Opsi Pertama

Erick menyebut pengurangan poin sebagai langkah yang akan didorongnya jika klub gagal menjaga suporternya. Ia memberi tenggat satu pekan kepada liga dan klub untuk bersepakat mencari solusi.

"Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, cuma kita akan lakukan tindak tegas pastinya. Karena intinya tadi, sama keselamatan," kata Erick.

Federasi meminta operator liga dan klub bertanggung jawab atas keamanan pertandingan. PSSI juga menyinggung komitmen kepada FIFA soal keselamatan suporter.

"PSSI meminta liga (I.League) dan klub-klub bertanggung jawab atas kegiatan pertandingan liga atau pertandingan klubnya. Kesepakatan PSSI dan semua keluarga sepakbola kepada FIFA adalah memastikan seluruh suporter pulang ke rumah dengan selamat," ujar Erick.

Larangan Suporter Away Bisa Dicabut

Jika tidak ada kesepakatan dalam sepekan, PSSI mengancam mengintervensi sendiri. Salah satu opsi yang disiapkan adalah mencabut izin suporter away.

Kebijakan suporter away baru berjalan sejak awal musim ini. Erick menyebut kebijakan itu menjadi taruhannya bila kekerasan terus berulang.

"Saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, kami PSSI akan intervensi. Jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi," ucapnya.

Kanjuruhan Jadi Rujukan Evaluasi

PSSI menilai Tragedi Kanjuruhan yang bermula dari rivalitas berlebihan belum menjadi pelajaran bagi suporter. Federasi tidak ingin kekerasan terus menjadi warna sepakbola Indonesia.

Atas kejadian baru-baru ini, PSSI meminta operator dan klub melakukan evaluasi menyeluruh. Langkah tegas dinilai perlu agar suporter lebih menjaga sikap, terutama saat laga tandang yang melibatkan rivalitas tinggi.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: sport.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top