JAWA BARAT — BPH Migas menyatakan jaringan gas bumi rumah tangga di Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur, memasuki tahap persiapan pengoperasian setelah public hearing penetapan harga digelar. Kedua wilayah itu menjadi bagian dari target pembangunan 1 juta sambungan jargas hingga 2028. Sebanyak 33.961 sambungan rumah di Jawa Timur sudah menikmati gas bumi, terdiri atas 4.000 SR di Gresik dan 29.961 SR di Sidoarjo.
Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur — Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman meninjau langsung kesiapan pengoperasian jaringan gas bumi rumah tangga di dua wilayah tersebut. Menurut Dudung, jargas merupakan program prioritas nasional yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada energi dan menekan ketergantungan pada LPG.
"Hari ini kami hadir untuk memastikan kesiapan pengoperasian jargas yang dibangun melalui APBN, sebagaimana arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan swasembada energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG," kata Dudung, dikutip dari laman BPH Migas.
Anggota Komite BPH Migas Arief Wardono menjelaskan, pihaknya telah menggelar forum diskusi terbuka bersama pemangku kepentingan sebagai bagian dari proses penetapan harga jargas. Proses itu dilanjutkan dengan kunjungan lapangan untuk melihat kesiapan pengaliran dan pemanfaatan jargas oleh masyarakat.
"Kunjungan ke jargas Sidoarjo dan Jargas Gresik dalam rangka persiapan pengaliran. BPH Migas telah melakukan public hearing untuk penetapan harga kedua jargas tersebut. Mudah-mudahan harga jargas tersebut dapat segera ditetapkan dan juga nanti akan dinikmati oleh masyarakat," ujar Arief.
BPH Migas memegang tugas menetapkan harga jargas untuk rumah tangga dan pelanggan kecil. Dua variabel yang jadi pertimbangan: nilai keekonomian badan usaha serta daya beli masyarakat setempat.
Sebagian warga Sidoarjo dan Gresik sebenarnya sudah terhubung jargas dan menikmati harganya. Arief menilai tarif yang berlaku saat ini cukup baik bila dibandingkan penggunaan LPG tiga kilogram.
"Selama ini masyarakat Sidoarjo dan masyarakat Gresik telah mendapat manfaat dari jargas dan juga menikmati dengan harga yang cukup baik dibandingkan penggunaan LPG tiga kilogram," tuturnya.
Di Jawa Timur, sebanyak 33.961 sambungan rumah sudah memanfaatkan jargas. Rinciannya, 4.000 SR di Gresik dan 29.961 SR di Sidoarjo.
Secara nasional, pembangunan jargas melalui APBN 2025–2026 ditargetkan mencapai 119.379 SR yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Angka itu bagian dari target lebih besar: 1 juta sambungan jargas hingga 2028.
Bagi rumah tangga yang sudah terhubung, jargas memangkas pengeluaran harian karena tarifnya bersaing dengan LPG bersubsidi. Bagi pemerintah, program ini mengurangi impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan.
Yang masih ditunggu warga Gresik dan Sidoarjo: kepastian angka tarif resmi. Tanpa penetapan itu, pengaliran penuh ke seluruh sambungan belum bisa dijalankan meski infrastruktur sudah berdiri.
Posisi jargas dalam bauran energi nasional akan makin penting jika target 1 juta SR terealisasi. Pemerintah menempatkan program ini sebagai salah satu pilar swasembada energi, bersanding dengan pengembangan bioenergi dan pembangkit berbasis gas domestik.