Review The History of Concrete: Dokumenter John Wilson yang Tak Seperti Biasanya

Penulis: Taufik Rahman  •  Sabtu, 19 September 2026 | 17:34:32 WIB

JAWA BARAT — Setelah sukses dengan serial How To with John Wilson, John Wilson kembali lewat dokumenter berdurasi 101 menit yang mengaku akan menceritakan sejarah beton dengan struktur film Hallmark. Nyatanya, beton justru jadi bagian paling tidak menarik dari film ini — dan itu bukan masalah besar.

Tom's Guide memberi rating 3 dari 5 bintang untuk The History of Concrete (2026), dengan catatan tegas: ini film yang wajib ditonton, tapi mungkin lebih pas disaksikan di rumah ketimbang di bioskop. Film ini sudah tayang di bioskop, dan menurut ulasan Tom's Guide, pengalaman menonton di rumah justru terasa lebih nyaman untuk film sekaliber ini.

Premis yang Sengaja Dibuat Berantakan

Wilson memulai proyek ini setelah serial HBO-nya berakhir. Dia mengaku kesulitan mengisi jeda antarproyek, lalu suatu ketika mencoba menambal beton di gedung miliknya sendiri dan menghadiri seminar Writers Guild of America tentang cara menulis film Hallmark. Dari situ lahir pitch-nya: sebuah dokumenter tentang sejarah beton.

Dia lalu terbang ke Roma — dan di sana justru nyaris tidak belajar apa pun soal beton. Yang dia temukan malah museum lilin dengan aplikasi AI companion yang sama-sama mengerikan dan menggelikan. Setelah itu dia mewawancarai Michael Imperioli, bintang The Sopranos, soal cara membuat film. Barulah kemudian beton benar-benar masuk ke layar.

Beton Bukan Bintang Utama Film Ini

Meski judulnya menjanjikan sejarah beton, fokus film ini lebih ke kondisi beton masa kini dan masa depan. Wilson memang mengajak penonton mengenal beton lebih dalam, tapi yang benar-benar menempel di kepala justru orang-orang di sekitarnya.

  • Sekolah mengemudi di Ohio yang beroperasi di jalan beton tertua di Amerika
  • Pria yang bertugas menyemprot permen karet dari trotoar beton New York City
  • Paduan suara perempuan yang menghibur pelari dalam lari 3.100 mil di satu blok beton di Jamaican, Queens

Kisah mereka jauh lebih berkesan dibanding betonnya sendiri. Ini bukan kelemahan fatal, tapi jelas mengubah ekspektasi penonton yang datang mencari dokumenter sejarah.

Elemen Film Hallmark yang Sulit Ditangkap

Wilson berusaha membangun struktur ala film Hallmark dalam dokumenternya. Masalahnya, koneksi ke Hallmark ini hanya akan terasa bagi penonton yang paham industri perfilman. Kalau kamu bukan orang film, bagian meta ini kemungkinan besar akan lewat begitu saja tanpa makna.

Tom's Guide menilai usaha Wilson menyambungkan metafora sepanjang film selalu berhasil secara teknis, tapi tidak selalu menghibur. Seiring berjalannya film, tanggapan-tanggapan Wilson jadi makin kurang memuaskan, walau tetap lucu dan tetap nyambung ke inti cerita.

Jack Macco Mencuri Perhatian di Babak Akhir

Menjelang penutup, muncul sosok bernama Jack Macco yang langsung mencuri film ini — untuk baik dan buruknya. Di akhir, dokumenter ini hampir sama banyaknya bercerita tentang interaksi Wilson dengan Jack seperti tentang beton itu sendiri.

Bagian ini jadi titik di mana film mulai terasa lebih muram. Masa depan beton, menurut film ini, sama suramnya dengan masa depan banyak hal lain. Tidak perlu dijelaskan detail di sini, karena justru itu inti tontonannya.

Kelebihan

  • Kemampuan Wilson menemukan humor di hal-hal biasa dan menghubungkan titik-titik tak terduga
  • Kisah orang-orang di sekitar beton jauh lebih kuat dari subjek utamanya
  • Selalu berhasil menyambungkan tanggapan balik ke inti film tanpa gagal
  • Wajib tonton bagi penggemar John Wilson dan penggemar How To with John Wilson

Kekurangan

  • Sejarah beton yang dijanjikan judul nyaris tidak dibahas
  • Struktur ala film Hallmark hanya bisa ditangkap penonton dari industri film
  • Tanggapan Wilson makin lama makin kurang memuaskan secara hiburan
  • Bagian akhir terasa muram dan bisa mengubah mood penonton

Verdict: Tonton, Tapi di Rumah Saja

Tom's Guide menyimpulkan The History of Concrete tetap layak ditonton, terutama bagi penggemar John Wilson yang ingin melihat proyek barunya. Namun jika kamu bukan penggemar beratnya, atau masih ragu, film ini kemungkinan akan segera hadir di layanan streaming — khususnya HBO Max, yang punya kesepakatan dengan Magnolia Pictures.

Menonton dari rumah disebut lebih nyaman untuk film ini. Yang penting, tontonlah pada akhirnya. Film ini sudah tayang di bioskop sekarang.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top