JAWA BARAT — Setelah sukses dengan serial How To with John Wilson, John Wilson kembali lewat dokumenter berdurasi 101 menit yang mengaku akan menceritakan sejarah beton dengan struktur film Hallmark. Nyatanya, beton justru jadi bagian paling tidak menarik dari film ini — dan itu bukan masalah besar.
Tom's Guide memberi rating 3 dari 5 bintang untuk The History of Concrete (2026), dengan catatan tegas: ini film yang wajib ditonton, tapi mungkin lebih pas disaksikan di rumah ketimbang di bioskop. Film ini sudah tayang di bioskop, dan menurut ulasan Tom's Guide, pengalaman menonton di rumah justru terasa lebih nyaman untuk film sekaliber ini.
Wilson memulai proyek ini setelah serial HBO-nya berakhir. Dia mengaku kesulitan mengisi jeda antarproyek, lalu suatu ketika mencoba menambal beton di gedung miliknya sendiri dan menghadiri seminar Writers Guild of America tentang cara menulis film Hallmark. Dari situ lahir pitch-nya: sebuah dokumenter tentang sejarah beton.
Dia lalu terbang ke Roma — dan di sana justru nyaris tidak belajar apa pun soal beton. Yang dia temukan malah museum lilin dengan aplikasi AI companion yang sama-sama mengerikan dan menggelikan. Setelah itu dia mewawancarai Michael Imperioli, bintang The Sopranos, soal cara membuat film. Barulah kemudian beton benar-benar masuk ke layar.
Meski judulnya menjanjikan sejarah beton, fokus film ini lebih ke kondisi beton masa kini dan masa depan. Wilson memang mengajak penonton mengenal beton lebih dalam, tapi yang benar-benar menempel di kepala justru orang-orang di sekitarnya.
Kisah mereka jauh lebih berkesan dibanding betonnya sendiri. Ini bukan kelemahan fatal, tapi jelas mengubah ekspektasi penonton yang datang mencari dokumenter sejarah.
Wilson berusaha membangun struktur ala film Hallmark dalam dokumenternya. Masalahnya, koneksi ke Hallmark ini hanya akan terasa bagi penonton yang paham industri perfilman. Kalau kamu bukan orang film, bagian meta ini kemungkinan besar akan lewat begitu saja tanpa makna.
Tom's Guide menilai usaha Wilson menyambungkan metafora sepanjang film selalu berhasil secara teknis, tapi tidak selalu menghibur. Seiring berjalannya film, tanggapan-tanggapan Wilson jadi makin kurang memuaskan, walau tetap lucu dan tetap nyambung ke inti cerita.
Menjelang penutup, muncul sosok bernama Jack Macco yang langsung mencuri film ini — untuk baik dan buruknya. Di akhir, dokumenter ini hampir sama banyaknya bercerita tentang interaksi Wilson dengan Jack seperti tentang beton itu sendiri.
Bagian ini jadi titik di mana film mulai terasa lebih muram. Masa depan beton, menurut film ini, sama suramnya dengan masa depan banyak hal lain. Tidak perlu dijelaskan detail di sini, karena justru itu inti tontonannya.
Tom's Guide menyimpulkan The History of Concrete tetap layak ditonton, terutama bagi penggemar John Wilson yang ingin melihat proyek barunya. Namun jika kamu bukan penggemar beratnya, atau masih ragu, film ini kemungkinan akan segera hadir di layanan streaming — khususnya HBO Max, yang punya kesepakatan dengan Magnolia Pictures.
Menonton dari rumah disebut lebih nyaman untuk film ini. Yang penting, tontonlah pada akhirnya. Film ini sudah tayang di bioskop sekarang.