GARUT — Lonjakan kunjungan wisatawan ke sentra kerajinan kulit Sukaregang, Jalan A Yani, Kabupaten Garut, berimbas pada gangguan arus lalu lintas. Pada hari libur, kendaraan besar seperti bus pariwisata memadati kawasan tersebut dan sebagian terpaksa berhenti atau parkir di badan jalan karena belum tersedia fasilitas parkir khusus.
Kondisi ini membuat arus lalu lintas di salah satu pusat oleh-oleh dan kerajinan kulit Garut itu tersendat. Tingginya kunjungan yang datang menggunakan kendaraan rombongan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan lalu lintas dan parkir di lokasi tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut, Satria Budhi, membenarkan persoalan tersebut. Menurutnya, kunjungan ke Sukaregang tidak hanya didominasi kendaraan pribadi berukuran kecil, tetapi juga bus dan kendaraan rombongan.
"Betul memang tidak kita pungkiri kondisi Sukaregang, kunjungan ke Sukaregang cukup lumayan dan kunjungan kendaraan juga bukan kendaraan kecil, bus segala macam," ujar Satria, Sabtu (22/8/2026).
Masalah muncul karena kapasitas fasilitas parkir yang tersedia belum mampu mengakomodasi kendaraan berukuran besar. Akibatnya, kendaraan wisatawan berpotensi menggunakan ruang jalan untuk berhenti maupun parkir. Hingga saat ini, belum ada lokasi khusus yang disiapkan untuk menampung bus wisatawan maupun kendaraan besar di kawasan tersebut.
Menghadapi kondisi tersebut, Dishub Garut mulai memikirkan solusi jangka panjang. Salah satu opsi yang dibahas adalah penyediaan kantong parkir terpusat dengan melibatkan pemilik toko maupun masyarakat di sekitar Sukaregang.
"Sementara mungkin kita memikirkan ke depan harus ada parkir khusus yang terpusat, mungkin nanti bisa bekerja sama dengan pemilik-pemilik toko yang ada di sana," katanya.
Menurut Satria, pengelolaan parkir menjadi bagian penting dari penataan lalu lintas di kawasan Sukaregang. Dishub berencana berkomunikasi dan melakukan sosialisasi dengan para pemilik toko terkait kebutuhan lahan parkir.
"Yang pertama kita akan berkomunikasi, sosialisasikan terkait dengan parkir, karena sebagian pemilik toko sudah ada yang memiliki, tapi untuk kendaraan besarnya tidak mungkin hanya kendaraan kecil," ujarnya.
Satria menilai persoalan kendaraan besar perlu mendapat perhatian khusus. Bus rombongan wisatawan membutuhkan ruang yang jauh lebih besar dibandingkan kendaraan pribadi sehingga tidak bisa mengandalkan fasilitas parkir yang hanya diperuntukkan bagi mobil kecil.
"Untuk kendaraan rombongan bus dan mobil besar harus kita pikirkan. Untuk lokasi parkir besar sejauh ini belum ada rencana lokasi. Kita coba komunikasikan dengan masyarakat, mudah-mudahan masyarakat mempunyai fasilitas yang tidak dipergunakan bisa dipergunakan," kata Satria.
Ramainya wisatawan yang datang ke Sukaregang sebenarnya menjadi potensi ekonomi bagi pelaku usaha kerajinan kulit. Namun, pertumbuhan kunjungan tersebut kini berhadapan dengan persoalan infrastruktur dasar, khususnya ketersediaan ruang parkir untuk kendaraan besar.
Tanpa penataan parkir yang memadai, peningkatan kunjungan wisatawan berisiko terus berimbas pada kepadatan lalu lintas di Jalan A Yani. Pemerintah daerah pun dituntut tidak hanya mengandalkan imbauan, tetapi segera menyiapkan solusi konkret agar aktivitas wisata dan perdagangan di Sukaregang tidak mengorbankan kelancaran lalu lintas.