JAWA BARAT — KAI Services meluncurkan layanan Warteg On Train di KA Batavia relasi Gambir–Solo Balapan, memungkinkan penumpang memilih sendiri lauk dari etalase di gerbong makan. Layanan ini mengangkat pengalaman makan ala warung tegal ke dalam perjalanan kereta api, lengkap dengan piring, sendok-garpu, dan kerupuk kaleng.
Konsep Warteg On Train menyasar sisi keseharian penumpang. Selama ini, makanan di kereta umumnya disajikan dalam paket tertutup dengan menu yang sudah ditentukan. KAI Services ingin mengubah cara bersantap itu agar terasa lebih akrab, seperti makan di warteg dekat rumah.
Anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) itu menyebut pilihan lauk beragam dan kebebasan menentukan menu sebagai daya tarik utama warteg. Penumpang KA Batavia kini bisa mengambil sendiri lauk dari etalase yang tersedia di gerbong makan, tanpa harus memesan paket menu tertentu.
Lauk ala Warteg di Atas Rel
Nuansa warteg dijaga lewat cara penyajian. Makanan dihidangkan di atas piring dengan sendok dan garpu, ditemani kerupuk kaleng yang jadi pelengkap khas. Papan menu di area penjualan memajang sejumlah sajian, antara lain telur dadar Padang, tumis kacang panjang, dan kikil kecap.
"Salah satu keseruan makan di warteg adalah memilih sendiri lauk yang ingin dinikmati," tulis KAI Services melalui akun Instagram @rmu.id, dikutip Minggu (18/10/2026).
Layanan ini mengusung tagline "Rasa Rumahan, Teman Perjalanan" dan menjadi bagian dari kampanye "Semakin Melayani" KAI Services. Unggahan peluncurannya telah disukai lebih dari 10 ribu akun dan menuai ratusan komentar warganet.
Modal dari Kinerja Semester I 2026
Langkah KAI Services menambah portofolio kuliner sejalan dengan pertumbuhan bisnis induknya. KAI mencatat 258.993.359 pelanggan sepanjang Semester I 2026, naik 7,55 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebanyak 240.805.920 pelanggan.
Pertumbuhan jumlah penumpang itu turut mendorong pendapatan konsolidasi KAI Group yang mencapai sekitar Rp 18 triliun pada Semester I 2026. KAI memakai modal tersebut untuk meningkatkan kapasitas, keandalan, keselamatan, serta integrasi layanan transportasi nasional.
"Delapan puluh satu tahun setelah momentum sejarah perkeretaapian, KAI terus melanjutkan perannya dalam melayani masyarakat dan mendukung konektivitas Indonesia," ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam upacara HUT ke-81 KAI di Bandung, Jawa Barat, Senin (28/9/2026).
Mengapa Layanan Non-Angkutan Digenjot
Bobby menjelaskan, KAI terus beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan mobilitas publik. Selain memperkuat angkutan penumpang dan logistik, perseroan menggenjot sumber pendapatan non-angkutan atau non-farebox melalui optimalisasi aset, pengembangan kawasan, dan penciptaan peluang bisnis baru.
Transformasi itu diwujudkan lewat peningkatan kualitas armada, revitalisasi stasiun, pengembangan layanan pariwisata melalui The Nusantara Explorer, hingga pemanfaatan aset untuk hunian terintegrasi transportasi publik alias Transit Oriented Development (TOD).
"Pertumbuhan membawa tanggung jawab yang semakin besar. Kebutuhan mobilitas yang terus meningkat harus kita jawab melalui peningkatan kapasitas dan keandalan layanan, penguatan sarana dan prasarana, serta keselamatan dan integrasi antarmoda," kata Bobby.
KAI mengusung visi menjadi operator berkelas dunia dengan ekosistem layanan kereta api yang efisien dan berkelanjutan. Keselamatan, ketepatan waktu, kenyamanan, efisiensi, dan keberlanjutan ditetapkan sebagai pilar utama layanan penumpang.
Bagi penumpang, kehadiran Warteg On Train memberi alternatif bersantap yang lebih personal di tengah perjalanan jauh. Bagi KAI Services, inovasi kuliner seperti ini menjadi salah satu jalan memperkuat bisnis non-farebox di tengah pertumbuhan jumlah penumpang yang terus meningkat.