JAWA BARAT — Honda Super One bukan mobil listrik dengan tenaga besar, tapi torsi instan 162 Nm dan bobot di bawah 1.100 kg membuatnya terasa jauh lebih lincah dari angka 63 hp yang tertulis di spesifikasi. Saya mencobanya langsung di rute 3-4 km kawasan Cikarang yang menggabungkan kemacetan, trek lurus pendek, dan belokan beruntun.
Honda Super One dan Prelude termasuk model langka yang belum banyak dijumpai di jalanan Indonesia. Saya berkesempatan mencoba keduanya di area Honda Cikarang dengan rute singkat, hanya 3 km sampai 4 km, namun cukup lengkap untuk mengenali karakter masing-masing mobil.
Rute tersebut meliputi jalanan Cikarang yang macet, trek lurus sekitar 50 meter, dan belokan beruntun. Kombinasi itu cukup untuk merasakan watak sebuah mobil tanpa harus menempuh jarak panjang.
Desain dan Sensasi Awal di Balik Kemudi
Hal pertama yang saya rasakan saat duduk di balik kemudi Super One bukanlah soal mesin. Rasa percaya diri langsung melonjak karena mobil ini belum banyak di jalan, sehingga orang-orang menoleh dan memperhatikan. Sensasi menjadi pusat perhatian itu punya daya tarik tersendiri.
Spesifikasi Motor Listrik: 47 kW yang Terasa Lebih Besar
Dari sisi angka, tenaga Super One memang terbilang kecil. Motor listriknya hanya menghasilkan 47 kW atau sekitar 63 hp dengan torsi 162 Nm. Ini masuk kelas kei car Jepang yang memang belum terbiasa dengan pasar Indonesia, apalagi jika dibandingkan Honda Brio Satya yang tenaganya sekitar 88 hp.
Namun angka itu menipu. Torsi listrik datang seketika, sementara bobot mobil di bawah 1.100 kg. Hasilnya, Super One terasa lebih lincah dari yang tersirat di spesifikasi. Mobil ini bukan tergolong cepat, tapi untuk lalu lintas kota sampai 60-70 km/jam, tidak pernah kerepotan.
Lima Mode Berkendara: Econ, City, Normal, Sport, dan Boost
Super One menyediakan banyak pilihan mode berkendara yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk perkotaan, mobil ini terasa lincah dan sangat nyaman dikendarai.
City mode menjadi favorit saya karena menerapkan one-pedal driving. Saat pedal gas dilepas, mobil melambat sendiri dengan halus dan bisa ditebak. Untuk kondisi macet di Cikarang, mode ini paling pas. Kekuatan regenerasinya bisa diatur lewat paddle di balik setir, dengan empat tingkat di City serta enam tingkat di Econ dan Normal.
Mode Sport: Transmisi Simulasi 7 Percepatan dan Suara Mesin Sintetis
Di mode Sport, fungsi paddle berubah menjadi transmisi simulasi 7 percepatan, lengkap dengan suara mesin sintetis dari speaker. Ini juga menjadi favorit saya.
Bayangkan sepulang kerja kita butuh suntikan adrenalin dan endorfin singkat. Pasang mode Sport, mainkan paddle shift-nya, dan mobil kecil ini terasa lincah serta seru dikemudikan.
Tombol Boost Ungu: Tenaga Naik ke 94 hp
Masih ada satu fitur lagi, yaitu tombol ungu di setir untuk mengaktifkan Boost. Saat ditekan, tenaga naik menjadi 70 kW atau sekitar 94 hp. Layar dan lampu kabin berubah menjadi ungu.
Panel instrumen menampilkan tiga dial virtual yang menunjukkan suhu baterai, "RPM", dan tenaga. Suara Active Sound Control juga makin mirip mesin bensin.
Catatan dari Sesi Singkat di Cikarang
Sesi uji yang hanya 3 km sampai 4 km ini memberi gambaran awal soal karakter Super One, tapi belum cukup untuk menilai konsumsi daya, kenyamanan jangka panjang, atau performa di kecepatan tinggi. Klaim soal efisiensi dan durabilitas baterai masih perlu pengujian lebih lama.
Posisi Super One sebagai kei car listrik juga menimbulkan pertanyaan soal harga dan penerimaan pasar Indonesia, mengingat tenaganya di bawah Honda Brio Satya yang sudah mapan. Pembeli yang mencari mobil listrik murah untuk mobilitas dalam kota bisa mempertimbangkannya, tapi yang butuh tenaga besar untuk perjalanan luar kota sebaiknya melihat opsi lain.