JAWA BARAT — Penelitian California State University yang dipimpin Dr. Larry Rosen mengungkap pemicu kebiasaan mengecek layar gawai tanpa ada notifikasi masuk. Otak terjebak siklus dopamin akibat menanti ketidakpastian balasan pesan atau perhatian dari orang lain. Fenomena psikologis ini ramai jadi bahan refleksi diri saat penutup akhir pekan.
Fenomena ini dibahas dalam siaran Cerita Penutup Hari pada Minggu, 27 September 2026. Momen penutup akhir pekan dipakai untuk merefleksikan kebiasaan kecil yang sering luput disadari pengguna gawai.
Mengapa Otak Terus Menanti Notifikasi
Dopamin bukan hormon kebahagiaan seperti yang sering disalahpahami. Zat ini bekerja sebagai sinyal penghargaan yang muncul saat otak mendeteksi kemungkinan imbalan, termasuk saat menunggu balasan pesan.
Ketidakpastian inilah yang membuat otak terus kembali mengecek layar. Setiap kali ponsel diangkat, ada harapan kecil bahwa kali ini akan ada notifikasi masuk. Harapan itulah yang memicu siklus berulang.
“Otak terjebak siklus dopamin akibat menanti ketidakpastian balasan pesan atau perhatian,” kata Dr. Larry Rosen.
Cerita Pendengar: Berharap Pesan yang Tak Kunjung Datang
Pola ini juga dialami seorang pendengar bernama Lara. Ia mengaku kerap mengangkat ponsel meski tidak ada satu pun notifikasi masuk.
“Terkadang kita berharap ada pesan, padahal tidak ada satu pun notifikasi masuk,” tulis Lara dalam pesan WhatsApp.
Pengalaman Lara mencerminkan pola yang lazim di kalangan pengguna smartphone. Ponsel sudah menjadi perpanjangan harapan sosial, tempat menaruh ekspektasi balasan dari orang lain.
Dampak ke Pengguna Indonesia
Kebiasaan cek HP tanpa notifikasi berdampak langsung pada kualitas istirahat dan fokus kerja. Waktu yang seharusnya dipakai untuk beristirahat di akhir pekan justru terpotong oleh refleks mengangkat layar.
Bagi pengguna di Indonesia, pola ini diperkuat oleh tingginya pemakaian aplikasi pesan instan dan media sosial. Notifikasi grup, balasan chat, hingga interaksi di kolom komentar menciptakan ekspektasi sosial yang terus menyala.
Dampak lanjutannya bisa berupa kecemasan ringan saat ponsel jauh dari jangkauan. Beberapa pengguna bahkan merasa gelisah ketika baterai menipis atau sinyal hilang, karena takut kehilangan momen balasan.
Ketenangan yang Tidak Lagi Digantungkan pada Notifikasi
Refleksi dalam siaran tersebut menawarkan sudut pandang berbeda. Ketenangan hati dan harapan tidak lagi digantungkan secara berlebihan pada sesama manusia.
Rasa cukup diajarkan untuk ditemukan melalui kedekatan kepada Tuhan, bukan dari notifikasi gawai. Pesan ini menjadi penutup yang relevan bagi pengguna yang lelah dengan siklus cek layar tanpa akhir.
Membatasi notifikasi, menetapkan jam bebas gawai, dan mengalihkan perhatian ke aktivitas nyata bisa jadi langkah awal. Yang paling penting, pengguna menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa ramai notifikasi yang masuk.