Pencarian

PDC Bina Pesantren Indramayu, Tempe Santri Tembus 3 Ton per Bulan

Minggu, 27 September 2026 • 12:20:31 WIB
PDC Bina Pesantren Indramayu, Tempe Santri Tembus 3 Ton per Bulan
Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath'fal memproduksi tempe di rumah produksi binaan PDC di Kroya, Indramayu.

JAWA BARAT — PT Patra Drilling Contractor (PDC) membina Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath'fal di Kroya, Indramayu, lewat program Tempesantren sejak Juli 2025. Produksi tempe santri kini menembus 100 kilogram per hari atau 3 ton per bulan, dengan omzet Rp 75 juta per bulan. Program ini berjalan bersamaan dengan layanan dapur PDC yang memasok 720 porsi makanan per hari untuk 180 pekerja rig di Indramayu.

Di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath'fal, Desa Temiyangsari, Kroya, aroma kedelai rebus menyengat dari ruang produksi. Santri sibuk memotong, membungkus, dan mengemas tempe yang kini dipasarkan ke luar pesantren. Sebelumnya, kapasitas produksi hanya mentok 40 kilogram per hari.

Perubahan itu datang setelah PDC mendampingi pesantren melalui program Tempesantren. Bantuan tidak berhenti di pembangunan rumah produksi dan pengadaan alat yang lebih higienis. Santri juga dilatih soal produksi, pemasaran, hingga manajemen usaha.

Dari 40 Kg ke 3 Ton per Bulan

Pimpinan Pesantren Tarbiyatul Ath'fal, KH Amin Royani, menuturkan kapasitas produksi tempe kini melampaui 100 kilogram per hari atau sekitar 3 ton per bulan. Omzetnya mencapai Rp 2,5 juta per hari, setara Rp 75 juta per bulan, dengan laba bersih Rp 15 juta per bulan.

Angka itu bukan sekadar catatan produksi. Pesantren menggratiskan pendidikan dan asrama bagi santrinya, sehingga laba usaha tempe menjadi sumber napas ekonomi yang lebih panjang. Usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi santri dan warga sekitar.

Tempe buatan santri kini memasok tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Artinya, produksi pesantren ikut masuk ke rantai pasok program pangan pemerintah.

Direktur Utama PDC Hery Lesmana menegaskan pendampingan dirancang agar pengelola usaha mampu berdiri sendiri. "Pendampingan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan. Kami ingin pengelola memiliki kapasitas untuk menjaga kualitas, memperluas pasar, dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan," kata Hery.

Dapur yang Menjaga Operasi Rig Tetap Jalan

Di lokasi lain, dekat Rig PDSI #15.3/N110-M Indramayu, lima orang bekerja sejak subuh menyiapkan 720 porsi makanan untuk 180 pekerja rig dalam empat waktu makan. Aroma nasi, lauk, dan roti memenuhi ruangan dapur yang dikelola tim FLS PDC.

Area Coordinator FLS Jawa PDC Dhandy Yaneldo menjelaskan operasi pengeboran yang aman dimulai dari makanan yang aman. Timnya menangani seluruh rantai, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian, dengan pemeriksaan mutu di setiap tahap.

Standar yang dipakai bukan ukuran dapur rumahan, melainkan standar keamanan pangan untuk operasi hulu migas. "Kelancaran operasi rig turut didukung oleh kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi para pekerja," jelas Dhandy.

Sinergi dengan Media dan Konteks Industri

Dua dapur itu dipertemukan PDC dalam Media Gathering 2026 pada 24-25 September lalu bersama 16 awak media nasional. Hery menilai media berperan sebagai mitra strategis, bukan sekadar saluran komunikasi perusahaan.

"Media tidak hanya menjadi saluran komunikasi perusahaan, tetapi juga mitra strategis dalam membangun pemahaman publik mengenai industri, bisnis, dan kegiatan hulu migas," ujarnya.

Bagi industri hulu migas yang kerap dilihat hanya dari angka produksi dan investasi, kisah dua dapur ini memperlihatkan sisi lain kontribusi perusahaan pengeboran. PDC tidak hanya menjaga kelancaran operasi rig, tetapi juga menumbuhkan usaha warga di sekitar wilayah kerja.

Ke depan, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan usaha pesantren setelah pendampingan berakhir. Kapasitas produksi 3 ton per bulan dan pasokan ke tiga SPPG menjadi modal awal yang cukup untuk bersaing di pasar tempe lokal.

Follow jabarprime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks