JAWA BARAT — Rasa bersalah sering menghampiri ibu saat ingin mengambil waktu untuk diri sendiri. Padahal, jeda sejenak penting agar energi kembali penuh. Talkshow #TanggalMerahUntukIbu di Bandung membahas cara sederhana recharge di tengah kesibukan mengurus keluarga.
Psikolog Fahrina Safitri dan momfluencer Ghina Alwi berbagi pandangan soal waktu istirahat bagi ibu dalam talkshow #TanggalMerahUntukIbu yang digelar Frisian Flag di Trans Studio Mall Bandung, Jumat (25/9/2026). Moderator Vida Alatas membuka sesi dengan pertanyaan sederhana: apakah ibu butuh "tanggal merah" dari rutinitas? Para peserta kompak menjawab, "Perlu!"
Me Time Bukan Berarti Meninggalkan Tanggung Jawab
Ghina Alwi menegaskan, tanggal merah bagi ibu bukan alasan lepas dari kewajiban. Justru sebaliknya, waktu itu dipakai untuk mengisi ulang energi supaya ibu lebih tenang menjalani perannya.
"Kadang ada rasa bersalah untuk libur sebentar. Padahal tanggal merah itu kemuliaan yang diberikan ayah dan keluarga. Tanggal merah bisa dipakai untuk me time agar kita lebih tenang dan lebih wise menyikapi sehari-hari," ujar Ghina.
Menurutnya, durasi me time tidak harus panjang. Saat kondisi memungkinkan, sekitar 30 menit yang benar-benar dipakai untuk diri sendiri sudah cukup jadi jeda.
"Harus dilihat waktunya memungkinkan atau enggak. Sesederhana 30 menit untuk diri sendiri itu sudah lebih cukup. Karena sebagai ibu, peran kita enggak pernah berhenti," katanya.
Kenapa Ibu Mudah Tersulut Emosi Saat Tidak Recharge
Ghina mengaitkan kebutuhan istirahat dengan kondisi emosi ibu. Terlalu lama tanpa jeda membuat energi menumpuk dan memicu mudah marah.
"Kalau kelamaan enggak recharge, kita bisa marah-marah dan salah menyalurkan energi. Ketika emosi kita lagi kurang stabil, perlu ambil tanggal merah karena emosi kita penting banget untuk keluarga. Kalau ibu bad mood, rumah jadi suram," tuturnya.
Dukungan suami dan keluarga jadi kunci. Komunikasi yang terbuka membuat kebutuhan ini tidak berubah jadi beban psikologis.
"Kalau lagi butuh tanggal merah, penting banget peran suami. Komunikasi dengan orang di rumah penting banget, komunikasi dengan keluarga atau pasangan. Jangan merasa bersalah, komunikasikan dengan suami dan keluarga," ujarnya.
Ibu Tetap Punya Identitas di Luar Perannya
Fahrina Safitri menyoroti tantangan lain: ibu sering merasa sulit mencari waktu untuk diri sendiri. Padahal jeda itu dibutuhkan untuk mengisi ulang energi di sela rutinitas.
"Tantangan jadi ibu-ibu adalah merasa susah cari waktu untuk diri sendiri, padahal itu penting banget untuk recharge energi di sela-sela rutinitas," ujar Fahrina.
Ia mengingatkan, ibu perlu kembali mengenali dirinya sebagai pribadi utuh, bukan hanya sebagai ibu atau istri.
"Kita perlu ingat nama kita sendiri tanpa embel-embel ibu siapa dan nyonya siapa. Kita butuh ingat kita juga pribadi yang utuh," katanya. "Ibu harus bagi berbagai peran. Kapan jadi diri sendiri dan full jadi ibu dan istri."
Jangan Tunggu Kelelahan, Cek Burn Out dengan Cara Ini
Fahrina menyarankan ibu tidak menunggu sampai benar-benar capek baru mengambil jeda. Salah satu caranya dengan mencoba beristirahat dan melihat apakah tubuh serta pikiran jadi lebih baik.
"Burn out bisa dicek dengan cara coba istirahat, tidur, rileks, apakah jadi lebih baik. Jangan ditunggu sampai capek. Ambil di sela-sela kegiatan tanpa merasa bersalah. Bukan berarti enggak peduli, tapi tanda sayang dengan diri sendiri," tuturnya.
Me time tidak harus mahal atau pergi jauh. Aktivitas sederhana yang dilakukan penuh untuk diri sendiri sudah memberi ruang rileks.
"Misalnya waktu anak-anak pergi sekolah, me time mandinya agak lama biar rileks. Minum minuman hangat, makan kesukaan kita. Karena setelah jadi ibu, kadang selera makan kita pun ditunda untuk mengakomodasi anak," bebernya.
Berinteraksi dengan sesama ibu dan bergabung di komunitas juga memberi dampak positif. Dukungan sosial membuat ibu merasa tidak sendirian menjalani perannya.
Jangan Merasa Bersalah Saat Ambil Waktu untuk Diri Sendiri
Fahrina menegaskan, kebutuhan mengisi waktu sendiri bukan tindakan egois. Ibu tidak perlu merasa berdosa ketika mengambil jeda demi kewarasan diri.
"Jangan merasa bersalah kalau sudah dikasih me time. Yang konseling ke saya juga ada yang merasa berdosa banget ketika mau me time. Jangan, gunakan sebaik-baiknya. Keluarga enggak hanya butuh fisik dan materi, tapi butuh dipahami dan didengarkan," ujarnya.
Sesi talkshow ditutup dengan afirmasi dan latihan pernapasan. Para peserta diajak mengucapkan kalimat penyemangat untuk diri sendiri sebagai pengingat bahwa ibu juga layak bahagia.
Mengambil tanggal merah bukan tanda kurang peduli pada keluarga. Sebaliknya, ibu yang energinya penuh lebih mampu hadir tenang, sabar, dan hangat mendampingi anak serta pasangan.