Pencarian

Studi Ungkap Air Kencing Pendaki Percepat Pencairan Gletser Everest

Kamis, 24 September 2026 • 12:18:01 WIB
Studi Ungkap Air Kencing Pendaki Percepat Pencairan Gletser Everest
Pendaki berkumpul di Base Camp Everest, Gletser Khumbu, Nepal, pada ketinggian 5.473 mdpl.

JAWA BARAT — Air kencing pendaki di Base Camp Everest menyumbang pencairan lebih dari 150 ton es dan salju setiap musim, menurut studi di jurnal Regional Environmental Change. Peneliti menyoroti Gletser Khumbu, lokasi perkemahan dasar di sisi Nepal pada ketinggian 5.473 mdpl, yang menerima sekitar 2.000 pendaki tiap musim semi. Temuan ini memperkuat desakan relokasi base camp ke area bebas es.

Penelitian yang melibatkan tim ilmuwan internasional menghitung bahwa sekitar 2.000 orang yang tiba di Base Camp Everest pada musim semi 2023 menghasilkan total 338.299 liter urin selama rata-rata 50 hari perjalanan. Setiap pendaki rata-rata menyumbang 3.181 liter, atau setara 0,8 galon per orang.

Panas dari cairan bersuhu sekitar 37 derajat Celcius itu, menurut perhitungan peneliti, cukup melelehkan sekitar 154 ton es dalam satu musim. Angka itu belum termasuk panas dari ribuan galon gas yang dipakai untuk memasak dan pemanasan di area perkemahan.

Dampak Gabungan Gas dan Urin

Jika digabungkan, panas dari urin dan bahan bakar fosil di Base Camp Everest melonjak menjadi 2.492 ton es yang mencair per musim. Volume itu setara dengan kapasitas satu kolam renang ukuran Olimpiade.

Gletser Khumbu menjadi fokus studi karena lokasinya yang berada tepat di jalur pendakian utama sisi Nepal. Ratusan orang berkumpul di sana setiap tahun sebelum menempuh puncak setinggi 8.848 mdpl.

Aktivitas manusia dalam jumlah besar telah mengubah kawasan tersebut. Selain kebisingan, tumpukan sampah, dan kotoran manusia, para peneliti mencatat peningkatan jumlah pendaki, pejalan kaki, dan staf pendukung memperparah tekanan lingkungan pada gletser.

Aturan Kantong Kotoran Belum Efektif

Sejak 2024, pendaki diwajibkan membawa kotoran mereka turun dalam kantong khusus. Aturan itu belum sepenuhnya menghentikan praktik buang air besar langsung di atas es, terutama di area yang lebih tinggi.

Para peneliti juga menekankan satu catatan penting: perhitungan 154 ton es mencair mengasumsikan seluruh panas dari urin berpindah ke es. Dalam praktiknya, sebagian panas hilang melalui perkolasi ke puing, limpasan, dan transfer panas yang tidak sempurna.

"Perkiraan ini kemungkinan merupakan batas atas, karena tidak memperhitungkan kehilangan panas melalui perkolasi ke dalam puing-puing, limpasan, transfer panas yang tidak sempurna, atau proses disipatif lainnya yang sulit diukur dalam kondisi lapangan," tulis tim peneliti.

Desakan Relokasi Base Camp

Tim ilmuwan menyerukan pemindahan Base Camp Everest ke lokasi yang lebih kering dengan potensi pencairan lebih rendah. Relokasi dinilai dapat mengurangi tekanan pada Air Terjun Es Khumbu sekaligus meningkatkan keselamatan ekspedisi.

"Memindahkan perkemahan utama ke lokasi yang bebas es dapat membantu mengurangi pencairan gletser akibat aktivitas manusia sekaligus mendorong praktik pendakian gunung yang lebih berkelanjutan," tulis mereka.

Everest menghadapi persoalan lingkungan lain di luar urin. National Geographic melaporkan kawasan tersebut dipenuhi lebih dari 50 ton sampah, membuatnya dijuluki tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia.

Nepal sempat menjalankan skema insentif agar pendaki membawa turun sampah mereka sendiri. Skema itu dihentikan tahun lalu karena dinilai gagal menunjukkan hasil nyata — pendaki hanya mengangkut sampah dari perkemahan bawah, bukan dari lereng tinggi tempat volume sampah terbesar berada.

Follow jabarprime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks