KABUPATEN BOGOR — Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi ajang konsolidasi pegiat lingkungan akar rumput. Forum KRL Kabupaten Bogor resmi dikukuhkan, menyatukan lebih dari 400 KRL yang selama ini bergerak secara sporadis di 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor.
Mengapa Forum KRL Perlu Dilembagakan?
Selama ini, masing-masing KRL bergerak sendiri-sendiri. Mulai dari aksi bersih sungai, penanaman pohon, hingga pengelolaan sampah berbasis komunitas. Tanpa koordinasi, dampak program kerap tumpang tindih atau tidak menjangkau wilayah prioritas.
Forum ini diharapkan menjadi jembatan antara komunitas dan pemerintah daerah. Tidak hanya sebagai mitra kerja, tetapi juga sebagai pengawal kebijakan lingkungan di tingkat desa dan kecamatan.
Telaga Saat: Simbol Perlindungan Mata Air
Pemilihan Telaga Saat sebagai lokasi pengukuhan bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan salah satu sumber mata air vital di Sukaraja yang kerap terancam alih fungsi lahan dan pencemaran. Dengan dikukuhkannya Forum KRL di sini, ada pesan kuat bahwa perlindungan sumber daya air menjadi prioritas pertama.
Para anggota forum yang hadir langsung melakukan aksi bersih dan penanaman pohon di sekitar telaga usai prosesi pengukuhan. Aksi ini menjadi simbol konkret bahwa forum tidak hanya sekadar organisasi formal, tapi siap bergerak di lapangan.
400 KRL Tersebar, Apa Tantangan ke Depan?
Jumlah 400 lebih KRL yang tersebar di 40 kecamatan menunjukkan animo masyarakat Bogor terhadap isu lingkungan cukup tinggi. Namun, tantangan terbesar adalah pemerataan kapasitas dan pendanaan. Tidak semua KRL memiliki akses ke program CSR perusahaan atau dana desa untuk kegiatan lingkungan.
Forum diharapkan bisa menjadi clearing house informasi: menghubungkan KRL yang butuh dukungan dengan pihak-pihak yang memiliki sumber daya. Termasuk menyusun peta jalan aksi lingkungan berbasis data kerentanan wilayah.
Bisakah Forum Ini Bertahan di Luar Musim Hujan?
Sejarah mencatat, banyak kelompok lingkungan di daerah mengendur aktivitasnya begitu musim penghujan berlalu atau setelah bencana surut. Forum KRL Kabupaten Bogor dituntut memiliki agenda tahunan yang terukur, bukan hanya reaktif terhadap bencana.
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui dinas terkait diharapkan tidak hanya meresmikan forum, tapi juga menyediakan ruang partisipasi dalam Musrenbang dan perencanaan pembangunan desa. Tanpa itu, forum berisiko menjadi seremoni tahunan tanpa dampak.