GARUT — Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pertanian (Dispertan) masih menunggu hasil kajian tim survei dari PT Agrinas terkait rencana pembangunan pabrik pakan ternak. Proyek ini digadang-gadang akan memanfaatkan komoditas jagung lokal yang melimpah sebagai bahan baku utama.
“Masih nunggu tim survei dari Agrinas. Waktu kesepakatan saat pertemuan terakhir di kantor Agrinas ya seperti itu,” kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, di Garut, Jumat.
Mengapa Hilirisasi Jagung Mendesak Dilakukan?
Garut merupakan pemasok jagung terbesar di Provinsi Jawa Barat dengan kontribusi mencapai 42 persen. Data Dispertan Garut mencatat, produksi jagung pada 2025 mencapai 458.978 ton dari luas lahan panen 60.230 hektare. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 432.252 ton.
Selama ini, sebagian besar jagung dari Garut justru dibawa ke luar daerah untuk diolah menjadi pakan ternak. Hasil olahan tersebut kemudian kembali lagi ke Garut untuk memenuhi kebutuhan peternak lokal. Alur distribusi yang panjang ini dinilai kurang menguntungkan bagi daerah.
Apa Target Pembangunan Pabrik Pakan?
Bupati Garut mendorong adanya hilirisasi jagung dengan membangun pabrik pengolahan di titik-titik strategis. Rencananya, pabrik pakan ternak akan dibangun di wilayah utara dan selatan Garut yang merupakan sentra tanaman jagung.
“Rencana kemarin itu wilayah utara dan selatan karena memang sentra jagung kita di selatan dan utara, harapannya bisa dua-duanya,” ujar Ardhy Firdian.
Keberadaan pabrik ini diharapkan mampu memotong rantai distribusi dan memberikan nilai tambah bagi petani jagung serta pelaku usaha peternakan di Garut. “Kami berharap itu bisa terwujud karena keberadaannya akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan,” tambahnya.
Bagaimana Dampak bagi Petani dan Peternak?
Jika terealisasi, pembangunan pabrik pakan ternak akan menyerap hasil panen jagung petani secara langsung. Petani tidak perlu lagi menjual jagung ke tengkulak atau pedagang luar daerah dengan harga yang belum tentu menguntungkan.
Bagi peternak, ketersediaan pakan ternak lokal akan lebih terjamin dan harganya lebih kompetitif karena biaya transportasi dari luar daerah bisa ditekan. Dispertan Garut mencatat, sebagian besar produksi jagung di Garut memang digunakan untuk kebutuhan pakan ternak.
Kajian tim survei dari PT Agrinas saat ini menjadi penentu utama apakah proyek strategis ini akan segera direalisasikan atau masih memerlukan penyesuaian lebih lanjut.