Pencarian

Ancaman Kemarau Panjang di Garut, DLH Waspadai Kebakaran TPA dan Hutan dengan Anggaran Minim

Kamis, 21 Mei 2026 • 13:06:37 WIB
Ancaman Kemarau Panjang di Garut, DLH Waspadai Kebakaran TPA dan Hutan dengan Anggaran Minim
DLH Garut bersiap antisipasi kebakaran TPA dan hutan di musim kemarau dengan anggaran terbatas.

GARUT — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut bersiap menghadapi ancaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan kawasan hutan saat puncak musim kemarau tiba. Fenomena El Nino dan perubahan iklim membuat suhu ekstrem diprediksi terjadi pada Agustus 2026, meningkatkan potensi titik api di sejumlah titik rawan.

Dua Pemicu Kebakaran di TPA: Panas Ekstrem dan Gas Metana

Kepala DLH Garut, Jujun Juansyah Nurhakim, menjelaskan ada dua faktor utama yang memicu kebakaran di area TPA. Pertama, suhu udara panas dari permukaan atas akibat cuaca ekstrem. Kedua, tekanan gas metana dari bawah tumpukan sampah yang bisa menyulut api secara alami.

“Risiko paling besar yang berdampak ke Dinas Lingkungan Hidup saat musim kemarau adalah potensi kebakaran di TPA. Sumber pemicunya ada dua, yakni suhu udara panas dari atas dan tekanan gas metana dari bawah,” ujar Jujun, Rabu (20/5/2026).

Kondisi kering di sekitar zona TPA, kata dia, membuat potensi kebakaran menjadi sangat besar jika tidak diantisipasi sejak dini.

Anggaran Rp 200 Juta vs Kebutuhan Rp 3,6 Miliar

DLH Garut menyiapkan tanah urug sebagai media utama pengendalian api. Tekniknya, titik api ditutup menggunakan tanah yang disiram air agar kobaran tidak meluas. Namun, persoalan anggaran menjadi kendala serius.

Kebutuhan tanah urug untuk pengendalian sampah di TPA mencapai sekitar 200 ton per hari. Dalam setahun, biaya yang diperlukan bisa menembus Rp3,6 miliar. Sayangnya, anggaran yang tersedia saat ini hanya sekitar Rp200 juta.

“Kalau untuk kontrol rutin TPA sebenarnya tidak mencukupi. Karena keterbatasan anggaran, akhirnya kami arahkan lebih ke antisipasi kebakaran, sekitar 100 truk atau kurang lebih 500 kubik tanah urug,” jelas Jujun.

Pasokan Air Terbatas, Pengeboran 120 Meter Gagal

Selain tanah urug, DLH juga menyiapkan cadangan air di kawasan TPA untuk mempercepat pemadaman. Namun, upaya pengeboran hingga kedalaman 120 meter belum membuahkan hasil. DLH terpaksa memanfaatkan aliran mata air pegunungan yang juga digunakan masyarakat.

“Kami mengambil air dari sumber mata air gunung yang mengalir ke masyarakat. Ada retribusi juga ke warga sekitar Rp200 ribu per bulan agar pasokan air tetap tersedia,” ungkap Jujun.

Warga Diimbau Tidak Membakar Sampah Sembarangan

Menghadapi potensi kekeringan dan ancaman kebakaran, Jujun mengimbau masyarakat Garut untuk tidak membakar sampah sembarangan. Kebiasaan membakar ranting atau sampah rumah tangga disebut bisa memicu kebakaran lebih besar, terutama jika dilakukan di dekat tempat penampungan sampah.

“Jangan sekali-kali membakar sampah, apalagi di dekat titik pembuangan. Banyak kejadian sampah dibakar dulu sebelum diangkut ke TPA, padahal bara api yang terbawa bisa menjadi sumber kebakaran besar di TPA,” pungkasnya.

DLH Garut kini memfokuskan seluruh sumber daya yang ada pada langkah antisipasi kebakaran selama musim kemarau, sembari berharap ada tambahan anggaran dari pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi jangka panjang.

Bagikan
Sumber: koranmandala.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks