JAWA BARAT — PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) melarang truk menunggu jadwal pengapalan parkir di bahu jalan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan mengalihkannya ke buffer area berkapasitas 230 unit. Kebijakan ini merespons lonjakan volume kendaraan logistik muatan kapal roll on-roll off (roro) yang selama ini memicu kemacetan di akses utama pelabuhan. Para sopir kini wajib memanfaatkan tiga titik buffer area yang telah disiapkan sebelum truk masuk kawasan pelabuhan.
Sub Regional Head Jawa PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 Purwanto Wahyu Widodo menyatakan penyediaan buffer area merupakan respons atas meningkatnya volume kendaraan logistik, khususnya truk pengangkut muatan kapal roro, yang sebelumnya kerap menunggu jadwal kapal di bahu jalan.
"Penyediaan buffer area kami siapkan karena meningkatnya volume kendaraan muatan kapal roro yang sebelumnya parkir di bahu jalan dan memicu kemacetan," ujar Purwanto.
Larangan tersebut dipasang dalam sejumlah spanduk di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Purwanto juga mengingatkan para sopir agar menjaga kelancaran kendaraan yang keluar masuk kawasan pelabuhan.
Pelindo menyiapkan buffer area di tiga titik. Area Kalimas Pos 3 dan 4, Area RTK 2, serta Area Kalimas Pos 5. Total kapasitas yang disiapkan mencapai sekitar 230 unit truk.
Sebelum buffer area tersedia, antrean truk kerap mengular di pinggir jalan karena menunggu jadwal kapal. Kini, truk-truk itu diarahkan ke buffer area untuk menunggu jadwal keberangkatan kapal.
Purwanto menegaskan kendaraan pengangkut muatan tidak diperbolehkan lagi berhenti di pinggir jalan dan wajib menggunakan buffer area untuk menjaga kelancaran lalu lintas di sekitar pelabuhan.
Jurnalis Ocean Week yang melintas ke Pelabuhan Tanjung Perak beberapa waktu lalu melihat antrean truk di sepanjang jalan pelabuhan, baik arah masuk maupun keluar. Antrean itu tak jarang membuat jalan padat dan menimbulkan kemacetan.
Sumber dari PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Cabang Surabaya menyebut pemandangan antrean truk di Tanjung Perak sudah biasa terjadi. Kondisi itu yang coba ditekan Pelindo melalui pengalihan ke buffer area.
Keberadaan buffer area sejauh ini dinilai cukup efektif mengurangi kepadatan kendaraan di akses utama pelabuhan. Antrean truk di pinggir jalan mulai berkurang, meskipun evaluasi terus dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan pada waktu tertentu.
Dari sisi operasional, pengaturan antrean dilakukan melalui informasi open gate, koordinasi lapangan, serta pengaturan jadwal pelayanan. Pelindo juga akan memperkuat sistem digital untuk meningkatkan efisiensi dan ketertiban antrean ke depan.
Langkah ini menyasar kelancaran arus logistik di salah satu pelabuhan tersibuk Indonesia. Tanjung Perak melayani muatan kapal roro yang menghubungkan Jawa dengan sejumlah daerah tujuan, sehingga kepadatan truk di akses pelabuhan berdampak langsung pada waktu tempuh barang.
Bagi pengusaha ekspedisi dan sopir truk, aturan baru ini memaksa perubahan kebiasaan menunggu jadwal kapal. Truk tidak lagi bisa bersandar di bahu jalan, tetapi harus masuk ke buffer area yang telah ditentukan.
Pelindo memastikan evaluasi berjalan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan pada periode tertentu. Penambahan kapasitas buffer area menjadi opsi jika volume truk terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas logistik di Tanjung Perak.