JAWA BARAT — Head of Asia Pacific Zoom Carlos Quaderi menilai perkembangan AI tidak lantas menghapus keberadaan kantor fisik, melainkan mengubah bentuk dan cara manusia bekerja. Menurutnya, pekerjaan yang menuntut empati dan interaksi manusia langsung justru akan semakin penting di tengah adopsi teknologi yang makin cepat.
Pandangan Carlos Quaderi menegaskan bahwa diskusi soal masa depan kerja tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah kantor masih diperlukan. Ia melihat perubahan teknologi lebih tepat dipahami sebagai pergeseran pada sifat pekerjaan itu sendiri, bukan sekadar perpindahan lokasi orang bekerja.
Zoom sendiri merupakan salah satu perusahaan yang pertumbuhannya erat kaitannya dengan lonjakan kerja jarak jauh. Perusahaan ini menyediakan layanan konferensi video yang banyak dipakai tim lintas lokasi, sehingga perspektif Carlos soal batas antara kerja daring dan tatap muka menjadi relevan bagi pengguna korporat di kawasan Asia Pasifik.
Carlos menilai pertanyaan inti bukan soal kantor fisik, melainkan bagaimana bentuk pekerjaan akan berubah. Teknologi digital dan AI memang memungkinkan sejumlah aktivitas diselesaikan tanpa kehadiran langsung.
Namun, ia menegaskan tetap ada jenis pekerjaan dan aktivitas yang membutuhkan kehadiran fisik. Menurutnya, perubahan dunia kerja perlu dibaca dari cara pekerjaan dilakukan, bukan hanya dari lokasi orang bekerja.
"Saya pikir pertanyaannya bukan soal kantor fisik, tetapi bagaimana bentuk pekerjaan akan berubah," kata Carlos.
Pernyataan ini menyiratkan bahwa perusahaan tidak bisa hanya memindahkan seluruh operasional ke ranah digital tanpa mempertimbangkan sifat tiap jenis pekerjaan. Ada aktivitas yang tetap efisien dijalankan jarak jauh, ada pula yang menuntut pertemuan langsung.
Carlos menyoroti kemampuan yang sulit digantikan teknologi, seperti empati, interaksi manusia yang sesungguhnya, hingga penilaian berbasis pengalaman atau kebijaksanaan. Baginya, kualitas-kualitas ini akan semakin penting seiring makin banyaknya tugas rutin yang diambil alih AI.
"Jadi kualitas manusia seperti empati, interaksi manusia yang sebenarnya, penilaian yang berasal dari pengalaman, seperti kebijaksanaan, semua hal ini akan menjadi sangat, sangat penting dan akan tetap penting serta menjadi semakin penting," ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah adopsi AI di banyak perusahaan yang lebih menempatkan teknologi sebagai alat bantu ketimbang pengganti penuh peran manusia. Untuk pekerjaan yang menuntut pengambilan keputusan sensitif dan hubungan antarmanusia, kehadiran langsung masih memberi nilai tersendiri.
Menurut Carlos, kantor di masa depan kemungkinan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan pekerjaan sehari-hari. Bentuknya dapat menyesuaikan kebutuhan pekerjaan yang terus bergeser mengikuti perkembangan teknologi.
"Akan selalu ada kebutuhan untuk kehadiran fisik," ujarnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa sifat dan bentuk pekerjaan akan berubah, sehingga adaptasi menjadi keharusan. "Jadi saya pikir sifat dan bentuk pekerjaan akan berubah, dan kita harus beradaptasi dengan perubahan tersebut," tutupnya.
Bagi pelaku bisnis digital di Indonesia, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa strategi kerja hibrida perlu dirancang berdasarkan jenis pekerjaan, bukan sekadar mengikuti tren. Investasi pada perangkat kolaborasi digital tetap penting, tetapi ruang fisik yang mendukung interaksi langsung juga belum kehilangan relevansinya.