PLTS Pulau Sembur Pasok Listrik 24 Jam, Warga Hemat Rp300 Ribu per Bulan

Penulis: Taufik Rahman  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:18:01 WIB
Panel surya PLTS berkapasitas 1 MWp di Pulau Sembur, Batam, memasok listrik 24 jam bagi 200 kepala keluarga.

JAWA BARAT — Pertamina bersama Kementerian ESDM meresmikan PLTS berkapasitas 1 MWp di Pulau Sembur, Batam, yang memasok listrik 24 jam bagi 200 kepala keluarga sejak commissioning 17 Agustus 2026. Proyek ini menjadi contoh awal implementasi program PLTS 100 GWp dan berpotensi memangkas pengeluaran listrik warga dari Rp500 ribu menjadi Rp200 ribu per bulan.

Paragraf pembuka: Selama bertahun-tahun, warga Pulau Sembur hanya mengandalkan genset swadaya yang menyala tiga hingga empat jam pada malam hari. Kini, 1.424 unit panel surya berkapasitas masing-masing 650 Wp berdiri di atas lahan seluas satu hektare, menghasilkan listrik yang mengalir sepanjang hari. Pembangkit ini juga dilengkapi battery energy storage system (BESS) berkapasitas 1 MWh untuk menjaga pasokan saat matahari tidak bersinar.

Dari Genset 4 Jam ke Listrik 24 Jam

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza memastikan pasokan listrik dari PLTS mencukupi kebutuhan warga sepanjang hari. "PLTS yang ada di sini sudah sangat-sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan 24 jam," ujar Oki, Selasa (25/8).

Perubahan paling terasa datang dari sisi pengeluaran. Sebelumnya, setiap rumah tangga mengeluarkan sekitar Rp500 ribu per bulan untuk membeli bahan bakar genset. Dengan pasokan energi surya, biaya tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar Rp200 ribu per bulan.

"Harapannya ini memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan adanya listrik hijau ini, pengeluaran masyarakat untuk listrik akan turun," kata Oki.

Nelayan Punya Waktu Lebih untuk Menjual Hasil Tangkapan

Sekitar 90 persen warga Pulau Sembur berprofesi sebagai nelayan tangkap dan pancing. Pertamina New & Renewable Energy (NRE) bersama Kementerian Koperasi membangun ice maker berkapasitas 4 ton per hari dan cold storage berkapasitas 5 ton untuk mendukung mata pencaharian mereka.

Fasilitas pendingin itu membuat hasil tangkapan bisa disimpan lebih lama. Nelayan tidak lagi terburu-buru menjual ikan segera setelah melaut, sehingga punya ruang lebih lebar untuk menawar harga.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyebut pendekatan ini sebagai productive use of energy, yakni pemanfaatan energi sebagai penggerak aktivitas ekonomi, bukan sekadar penerangan.

Hemat BBM hingga Rp5 Miliar per Tahun

Pemanfaatan PLTS diproyeksikan menghemat penggunaan bahan bakar minyak sekitar 877 liter per hari, atau setara 320 ribu liter per tahun. Nilai penghematan biaya BBM diperkirakan mencapai Rp3,5 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.

Tokoh masyarakat setempat, Ghazarman (60), mengenang masa ketika listrik belum tersedia sama sekali. "Sejak saya kecil, listrik di sini memang tidak ada. Jadi bagi orang yang berada, dia bisa membeli genset," ujarnya, Selasa (25/8).

Suharti (50), warga yang berjualan jajanan, minuman, dan mie rebus, merasakan langsung perubahan durasi listrik. "Listrik sudah dari jam dua siang sampai pagi," katanya.

Model untuk Wilayah Pesisir Lain

Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Harris, berharap pembangunan PLTS di Pulau Sembur menjadi model yang bisa direplikasi di daerah lain. "Yang paling penting adalah bagaimana pembangunan ini bisa memberikan manfaat dan manfaat itu dijaga," ujar Harris di Batam, akhir Agustus lalu.

Upaya serupa tengah disiapkan di Purwakarta, Jawa Barat. Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mendorong inisiatif percontohan yang menghubungkan pemanfaatan energi terbarukan dengan penguatan ekonomi lokal. Ketua Task Force 100 GW AESI, Rama Dinara, menjelaskan wilayah tersebut punya potensi sumber daya ikan melimpah tetapi masih terkendala pasokan listrik.

PLTS Pulau Sembur sendiri baru menyumbang 1 MWp dari target nasional 100 GWp. Namun proyek ini menunjukkan bagaimana pengembangan energi surya bisa disesuaikan dengan karakter ekonomi tiap daerah, dari nelayan pesisir hingga rantai nilai perikanan di wilayah lain.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top