Karnaval Budaya Banyuasin Kembaran Purworejo Hadirkan Gunungan Hasil Bumi dan Kuda Lumping

Penulis: Taufik Rahman  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:10:12 WIB
Ribuan warga memadati karnaval budaya di Desa Banyuasin Kembaran, Purworejo, untuk menyaksikan arak-arakan gunungan hasil bumi.

JAWA BARAT — Perayaan kemerdekaan di Desa Banyuasin Kembaran, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, tahun ini berbeda dari biasanya. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti karnaval budaya yang tidak hanya menampilkan atraksi seni, tetapi juga menjadi ritual syukur atas hasil panen. Event ini berlangsung meriah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dari 11 RT, pelajar, hingga instansi setempat.

Kepala Desa Banyuasin Kembaran, Ahmad Abdul Azis, menjelaskan bahwa karnaval ini merupakan rangkaian panjang peringatan kemerdekaan. Sebelumnya, desa telah menggelar malam tirakatan dan Gebyar Rebana pada 17 Agustus, yang dirangkai dengan tradisi bersih desa. "Untuk kegiatan hari ini merupakan rangkaian memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81," ujarnya.

Gunungan Hasil Bumi Jadi Magnet Utama Ribuan Warga

Daya tarik utama karnaval ini adalah gunungan hasil bumi yang dibuat oleh masyarakat dari beberapa pedukuhan. Gunungan tersebut berisi sayur-mayur, buah-buahan, dan aneka umbi-umbian yang merupakan produk pertanian lokal Desa Banyuasin Kembaran.

Setelah diarak keliling desa, gunungan-gunungan ini kemudian diperebutkan warga. Tradisi ini menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur atas melimpahnya hasil pertanian. "Ini merupakan wujud rasa syukur dan terima kasih. Kami membuat gunungan dari hasil bumi yang ada di Desa Banyuasin Kembaran," jelas Ahmad.

Selain gunungan, iring-iringan karnaval juga menampilkan berbagai kesenian tradisional seperti kuda lumping dan rewo-rewo. Warga juga membawa bergodo, sebuah inisiatif masyarakat yang berisi perlengkapan simbolis seperti tumpeng, ingkung, dan perlengkapan selamatan.

Rangkaian Acara dan Pertunjukan Pendukung

Puncak acara tidak berhenti pada karnaval. Usai arak-arakan, masyarakat disuguhi pertunjukan kuda lumping yang didatangkan khusus dari Sinogo, Kulon Progo. Pertunjukan ini menjadi hiburan penutup sekaligus upaya menjaga kesenian tradisional tetap dekat dengan warga.

  • Karnaval budaya dan kirab gunungan hasil bumi
  • Tradisi merti desa dengan tumpeng, ingkung, dan selamatan
  • Pertunjukan kuda lumping dari Sinogo, Kulon Progo
  • Gebyar Rebana dan malam tirakatan pada 17 Agustus

Aturan Khusus Wisatawan Saat Menghadiri Acara

Satu hal yang perlu diperhatikan wisatawan: pertunjukan kesenian di desa ini hanya digelar hingga sore hari. Pemerintah desa menetapkan larangan pertunjukan malam hari melalui Peraturan Desa (Perdes) yang disepakati tokoh agama dan masyarakat.

"Untuk Banyuasin Kembaran, pertunjukan hanya sampai sore. Pertunjukan malam hari tidak diperbolehkan. Kami tetap menaati keputusan bersama," tegas Ahmad. Wisatawan yang datang disarankan mengatur waktu perjalanan agar bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara sebelum matahari terbenam.

Nilai Budaya dan Semangat Kebersamaan

Bagi Ahmad, karnaval ini bukan sekadar hiburan tahunan. Kegiatan ini menjadi medium untuk memperkuat silaturahmi dan persatuan warga. "Harapan kami dengan kegiatan seperti ini bisa menambah semangat, menjalin silaturahmi, persatuan dan kesatuan warga," ungkapnya.

Event ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal budaya lokal. Melalui keterlibatan pelajar dari MTs Negeri 3 Purworejo, SMP Negeri 29 Purworejo, dan SD Negeri Banyuasin Kembaran, tradisi ini diharapkan terus hidup. "Dari keanekaragaman itu kita bisa menjadi satu kesatuan, yaitu Banyuasin Kembaran. Seperti Bhinneka Tunggal Ika," tutup Ahmad.

Bagi traveler yang mencari pengalaman budaya otentik di Jawa Tengah, karnaval ini menawarkan sisi lain Purworejo yang jarang terekspos. Kombinasi antara ritual syukur, seni pertunjukan, dan semangat kemerdekaan menjadikannya destinasi wisata budaya yang layak masuk daftar kunjungan tahun depan.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: purworejo24.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top