Pola Makan Ayah Sebelum Hamil Pengaruhi Berat Badan Bayi, Studi Brasil Mengungkap Fakta Ini

Penulis: Okta Nugraha  •  Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:54:31 WIB
Ayah yang rutin mengonsumsi makanan ultra-proses berisiko memiliki bayi dengan berat badan lahir lebih tinggi dari normal.

JAWA BARAT — Bunda, membicarakan persiapan kehamilan memang identik dengan menjaga asupan nutrisi calon ibu. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Brasil mengingatkan kita bahwa peran ayah sama pentingnya. Tim peneliti menemukan bahwa pola makan pria sebelum masa pembuahan ternyata meninggalkan "jejak" pada kesehatan bayi yang akan lahir.

Studi yang dipublikasikan dan dilansir New York Post pada Sabtu (1/8) ini mengamati kebiasaan konsumsi makanan ultra-proses pada calon orang tua. Hasilnya cukup mengejutkan: ayah yang gemar mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan olahan cenderung memiliki bayi dengan berat badan lahir lebih tinggi dari normal.

Mengapa Makanan Ultra-Proses Berdampak pada Sperma?

Peneliti utama studi, Daniela Sartorelli, menjelaskan bahwa nutrisi ayah selama ini jarang menjadi sorotan. Padahal, kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi sehari-hari.

"Nutrisi dan kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan selalu menjadi perhatian utama. Namun, masih sedikit yang membahas peran pola makan ayah. Penelitian kami menunjukkan bahwa pola makan ayah juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan bayi," ujar Daniela.

Mekanismenya berkaitan dengan peradangan dalam tubuh. Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi memicu peradangan kronis, yang kemudian berdampak pada kualitas sperma dan mengubah cara kerja gen tertentu pada bayi. Proses ini dikenal dengan istilah epigenetika.

Gen IGF-II: Warisan dari Ayah yang Menentukan Pertumbuhan Janin

Salah satu temuan kunci dalam penelitian ini adalah peran gen IGF-II. Gen ini hanya diwariskan dari pihak ayah dan berfungsi sebagai "pengatur" utama pertumbuhan janin di dalam kandungan.

"Proses ini dikenal sebagai epigenetika. Aktivitas gen dapat 'diaktifkan' atau 'dinonaktifkan' bergantung pada kebiasaan makan sang ayah," jelas penulis studi lainnya, Mariana Rinaldi Carvalho.

Ketika aktivitas gen IGF-II berubah akibat pola makan ayah yang buruk, risiko bayi lahir dengan berat badan berlebih menjadi lebih tinggi. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena berat badan lahir yang tidak ideal membawa risiko kesehatan jangka panjang.

Dampak Konsumsi Makanan Olahan pada Ibu Berbeda dengan Ayah

Menariknya, efek makanan ultra-proses pada ibu hamil menunjukkan hasil yang berkebalikan. Penelitian menemukan ibu yang banyak mengonsumsi makanan ini pada awal kehamilan hingga usia kandungan 16 minggu cenderung melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah, tinggi badan lebih pendek, serta lingkar kepala lebih kecil.

Hal ini terjadi karena makanan ultra-proses umumnya rendah kandungan gizi meski tinggi kalori. Bayi yang lahir dengan berat badan terlalu rendah maupun terlalu tinggi sama-sama memiliki risiko kesehatan yang lebih besar, termasuk meningkatnya risiko kematian pada masa awal kehidupan.

Contoh Makanan Ultra-Proses yang Perlu Dibatasi

Makanan ultra-proses adalah produk yang dibuat dari ekstrak bahan pangan, bukan bahan utuh, kemudian diproses di pabrik dengan tambahan berbagai zat seperti pengawet, pemanis, pewarna, penguat rasa, dan bahan aditif lainnya.

  • Minuman bersoda dan minuman bubuk berperisa
  • Permen dan camilan kemasan
  • Adonan kue instan
  • Daging olahan seperti sosis dan nugget
  • Mi instan

Kapan Bunda dan Ayah Harus Mulai Mengubah Pola Makan?

Persiapan kehamilan sebaiknya dimulai minimal tiga bulan sebelum program hamil. Periode ini cukup bagi sel sperma untuk beregenerasi dan bagi tubuh ibu untuk membangun cadangan nutrisi penting seperti asam folat dan zat besi.

Dalam jangka panjang, berat badan lahir yang tidak ideal juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga beberapa jenis kanker. Bayi dengan berat badan lahir terlalu tinggi juga berpotensi mengalami keterlambatan perkembangan motorik, seperti merangkak dan berjalan.

Kabar baiknya, perubahan kecil bisa dimulai dari sekarang. Mengganti camilan kemasan dengan buah segar, membatasi mi instan, dan memasak makanan sendiri di rumah adalah langkah awal yang realistis. Kesehatan calon bayi adalah tanggung jawab bersama, dan setiap pilihan makanan yang lebih baik hari ini adalah investasi untuk masa depan si kecil.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: riau.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top