DEPOK — Ghaziyah Permata Ghaly dan Kanaya Abira Prasetyo, dua siswi kelas VI SDN Cilodong 1, sukses menorehkan prestasi di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kota Depok 2026. Ghaziyah meraih Juara II pada Lomba Ngadongeng, sementara Kanaya menempati posisi yang sama pada Lomba Maca Sajak.
Keberhasilan keduanya terasa istimewa karena baik Ghaziyah maupun Kanaya tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu sehari-hari. Ghaziyah adalah putri pasangan ayah asal Indramayu dan ibu berdarah Makassar yang lahir di Jakarta, sedangkan Kanaya merupakan putri dari ayah asal Wonogiri dan ibu asal Bogor.
Bagi Ghaziyah, proses persiapan menuju tingkat kota bukanlah perkara mudah. Ia mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya bukan menghafal naskah dongeng, melainkan membiasakan logat bahasa Sunda agar terdengar alami di hadapan dewan juri. Untuk itu, ia menjalani latihan setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah.
“Menurut saya bahasa Sunda itu keren. Tidak semua orang yang tinggal di Depok bisa berbahasa Sunda, jadi saya ingin bisa. Alhamdulillah nilai pelajaran Bahasa Sunda saya juga selalu bagus,” ujar Ghaziyah.
Ketertarikan Ghaziyah pada bahasa Sunda membawanya aktif mengikuti perlombaan sejak duduk di bangku kelas IV. Sebelum menembus tingkat kota, ia terlebih dahulu meraih Juara I pada FTBI tingkat Kecamatan Cilodong.
Hal serupa dialami Kanaya yang mengaku mulai tertarik mempelajari bahasa Sunda karena menyukai logat dan keindahan pelafalannya. Untuk mempersiapkan diri menghadapi FTBI tingkat kota, Kanaya rutin berlatih bersama guru pembimbing di sekolah dan secara mandiri di rumah.
“Saya senang mendengar orang berbicara bahasa Sunda. Logatnya enak didengar sehingga membuat saya tertarik untuk mempelajarinya,” tuturnya.
Kanaya mengaku memanfaatkan teknologi untuk membantu latihan di rumah. Ia juga kerap berlatih di depan cermin untuk melatih ekspresi, penghayatan, artikulasi, serta penguasaan panggung. “Tantangan terberat adalah mengatur nada karena suara saya kadang belum stabil,” katanya.
Guru Pembimbing FTBI SDN Cilodong 1, Okti Wijayanti Indah Abriastuti, S.Pd, menjelaskan bahwa keberhasilan kedua siswinya merupakan hasil pembinaan berkelanjutan. Pihak sekolah telah melihat potensi Ghaziyah dan Kanaya melalui berbagai kegiatan literasi, seni berbahasa, serta penampilan mereka di kelas sejak seleksi internal yang melibatkan perwakilan siswa kelas IV dan V.
“Kami melihat mereka memiliki bakat, keberanian tampil, serta rasa percaya diri yang tinggi. Bersama Bu Doris, kami sepakat memberikan pembinaan setelah mereka lolos dari proses seleksi internal sekolah,” terang Okti.
Materi latihan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penguasaan naskah, tetapi juga mencakup ekspresi, artikulasi, intonasi, teknik vokal, penghayatan, hingga penggunaan logat bahasa Sunda yang tepat. Menurut Okti, penguasaan logat, intonasi, dan cengkok bahasa Sunda menjadi tantangan utama karena keduanya bukan penutur asli.
“Namun mereka memiliki semangat belajar yang tinggi sehingga perkembangan mereka sangat pesat. Saya selalu menyampaikan kepada mereka agar tidak pernah takut kalah. Yang terpenting adalah berani mencoba dan terus belajar,” ujarnya.
Atas prestasi ini, Ghaziyah mengucapkan terima kasih kepada Bu Doris, Bu Okti, dan Bu Sarah yang telah membimbing serta memberi semangat. Kanaya pun menyampaikan apresiasi serupa kepada Bu Doris dan Bu Okti. Siswi yang bercita-cita menjadi Duta Besar Republik Indonesia itu berharap prestasi ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.