Tantan Sulthon B Siap Pimpin PWI Jawa Barat 2026-2031, Tekankan Wartawan Harus Adaptif AI Tanpa Kehilangan Nurani

Penulis: Okta Nugraha  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 14:33:01 WIB
Calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031, Tantan Sulthon B, menyampaikan visinya dalam wawancara di Bandung.

BANDUNG — Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031, menyatakan dunia pers tengah menghadapi tantangan besar akibat disrupsi teknologi digital dan kecerdasan buatan. Di tengah tuntutan kecepatan penyajian informasi, ia mengingatkan bahwa akurasi dan kepercayaan publik kerap menjadi taruhan utama.

Pernyataan itu disampaikan Tantan di tengah dinamika menjelang pemilihan ketua organisasi wartawan terbesar di Jawa Barat tersebut. Ia menilai organisasi bukan sekadar urusan administrasi, melainkan rumah bersama yang menentukan arah kemudi pers daerah saat badai disrupsi melanda.

Esensi Jurnalisme di Tengah Gempuran AI

Tantan mengingatkan pada tesis klasik Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bahwa esensi jurnalisme tetap sama, yaitu menyajikan informasi valid agar masyarakat tetap merdeka. Ia menegaskan teknologi hanyalah alat bantu, sementara hati nurani tetap menjadi ruh utama yang tidak bisa digantikan mesin pintar.

"Oleh karena itu, organisasi wartawan di Jabar punya pekerjaan rumah yang besar. Lembaga ini harus mampu menyulap diri menjadi laboratorium belajar yang dinamis," katanya.

Ia mendorong wartawan untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi AI, tetapi mengingatkan agar adopsi teknologi tidak sampai menggerus jati diri wartawan. "Teknologi hanyalah alat bantu, sementara hati nurani dan komitmen pada fakta tetap menjadi ruh utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin pintar mana pun," ujarnya.

Dinamika Internal dan Ujian Kedewasaan Organisasi

Di balik tantangan teknologi, Tantan juga menyoroti dinamika internal yang belakangan mewarnai perjalanan PWI Jawa Barat. Silang pendapat dan perbedaan pilihan di internal organisasi dinilainya sebagai hal lumrah, namun berpotensi memicu polarisasi jika tidak dikelola bijak.

"Tembok organisasi itu didirikan untuk melindungi dan menguatkan semua anggotanya, bukan malah membangun sekat-sekat eksklusif yang memisahkan. Solusinya jelas: kembali ke meja musyawarah dengan budaya saling menghormati," paparnya.

Menurut Tantan, kedewasaan sebuah wadah profesi justru diuji dari cara mengelola perbedaan tersebut. Organisasi yang kokoh bukan berarti bersih dari perbedaan, melainkan piawai merajut perbedaan menjadi energi kolektif yang dahsyat.

Pintu Terbuka bagi Wartawan Muda dan Senior

Ke depan, Tantan menegaskan pintu organisasi wartawan di Jabar harus terbuka lebar secara inklusif. Wartawan muda yang minim pengalaman harus dirangkul dan diberi ruang aman untuk bertumbuh tanpa mengesampingkan jasa para senior.

"Wartawan muda yang minim pengalaman harus dirangkul dan diberi ruang aman untuk bertumbuh, tanpa sedikit pun mengesampingkan jasa dan dedikasi para senior yang telah bertahun-tahun merawat fondasi profesi ini," ujarnya.

Menurutnya, membangun rumah pers yang teduh dan mandiri tidak bisa mengandalkan satu atau dua orang saja. "Dibutuhkan kolaborasi nyata dari banyak tangan yang memiliki frekuensi dan niat yang sama," harapnya.

Menjaga Marwah dan Independensi Pers Jabar

Tantan menilai marwah organisasi pers tidak ditentukan oleh usia atau megahnya gedung, melainkan komitmen anggota dalam menjunjung tinggi kode etik, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Reputasi di mata publik harus diperjuangkan lewat konsistensi produk jurnalistik setiap hari.

Tugas generasi hari ini, lanjutnya, bukan sekadar menumpang tinggal di rumah besar bernama PWI Jawa Barat, melainkan memastikan lentera independensi tetap menyala terang. Selama komitmen bersama terjaga, harapan lahirnya jurnalisme yang sehat, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik akan selalu menemukan jalannya.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: patrolicyber.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top