JAWA BARAT — Ford mengumumkan kemitraan strategis dengan Apple untuk mengintegrasikan Apple Maps ke dalam kendaraan listrik generasi barunya. Sistem navigasi ini tidak hanya akan menggantikan Google Maps di layar dasbor, tetapi juga menjadi tulang punggung pengembangan teknologi otonom Ford melalui anak perusahaannya, Latitude AI.
Eddy Cue, Senior Vice President Services and Health Apple, menyebut MapKit sebagai "pengalaman peta terbaik di dunia." Sistem ini akan menjadi fitur standar di semua kendaraan yang menggunakan platform Universal Electric Vehicle (UEV) milik Ford.
Fungsi utamanya mencakup pencarian stasiun pengisian daya dan pra-kondisi baterai secara otomatis sebelum mobil mencapai tujuan. Fitur ini krusial untuk mengurangi kecemasan jarak tempuh pada kendaraan listrik.
Model pertama yang mengusung Apple Maps adalah truk listrik seharga USD 30.000 atau sekitar Rp 480 juta (estimasi kurs Rp 16.000). Berdasarkan foto mata-mata yang beredar, truk ini memiliki dimensi mirip Ford Maverick dengan layar besar di tengah dasbor yang akan menjalankan software Apple.
Ford belum mengumumkan nama resmi, namun spekulasi internal menyebut model ini akan dinamai Ranchero. Produksi dijadwalkan mulai 2027. Selain truk, Ford juga mengisyaratkan akan meluncurkan van dan beberapa SUV di platform yang sama.
Sistem Apple Maps juga akan dimanfaatkan Latitude AI untuk menyempurnakan teknologi hands-free driving. Saat ini Ford sudah memiliki BlueCruise yang memungkinkan pengemudi melepas setir di jalan tol tertentu dengan kecepatan adaptif, namun mata tetap harus fokus ke jalan.
Dalam pengumuman Januari lalu, Latitude AI mengembangkan model software untuk mendukung kemampuan self-driving level lebih tinggi, termasuk eyes-off autonomous driving. Kolaborasi dengan Apple diyakini akan memperkaya data pemetaan dan memperluas jangkauan hands-free driving ke area perkotaan.
Jim Farley, CEO Ford, menegaskan bahwa platform UEV dan pengembangan di Latitude AI adalah bagian dari rencana besar untuk mendemokratisasi teknologi otonom. Targetnya adalah menghadirkan kemampuan self-driving pada kendaraan dengan harga yang bisa dijangkau konsumen kelas menengah.
Dengan harga USD 30.000, truk listrik ini akan menjadi kendaraan termahal yang membawa teknologi otonom canggih jika rencana tersebut terealisasi. Namun publik masih harus menunggu hingga 2027 untuk melihat hasil konkret kolaborasi antara raksasa otomotif Detroit dan perusahaan teknologi Cupertino ini.