JAWA BARAT — Insiden ini terjadi pada laga fase grup yang mempertemukan AS melawan Belgia. Wasit awalnya memberikan kartu merah langsung kepada Balogun usai dianggap melakukan pelanggaran keras terhadap bek Belgia. Keputusan itu langsung mengubah jalannya pertandingan dan membuat skuad asuhan Gregg Berhalter harus bermain dengan 10 orang.
Belum ada 24 jam sejak kartu merah dikeluarkan, Presiden AS Donald Trump dikabarkan langsung menghubungi petinggi FIFA. Sumber internal di federasi menyebut tekanan dari Gedung Putih begitu kuat sehingga FIFA mengambil langkah tidak lazim dengan meninjau ulang keputusan wasit di luar protokol standar.
“Kami tidak bisa mengomentari secara spesifik komunikasi dengan kepala negara,” bunyi pernyataan resmi FIFA yang dikutip media setempat. “Namun, setelah meninjau bukti video tambahan, Komite Disiplin memutuskan untuk mencabut kartu merah tersebut.”
Keputusan ini langsung menuai reaksi keras dari kubu Belgia. Pelatih Belgia, Domenico Tedesco, menyebut intervensi politik telah merusak kredibilitas turnamen. “Ini bukan lagi sepak bola murni. Ada kekuatan lain yang bermain di luar lapangan,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.
Di sisi lain, federasi sepak bola AS (US Soccer) menyambut baik keputusan FIFA. Mereka menilai keputusan awal wasit terlalu keras dan tidak proporsional. Balogun sendiri dipastikan bisa tampil di laga berikutnya melawan Inggris.
Kasus ini membuka kembali diskusi klasik soal batas antara tekanan politik dan kemurnian olahraga. FIFA, yang selama ini getol mempromosikan netralitas, kini dianggap tunduk pada tekanan Gedung Putih. Apalagi, AS akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.
Pengamat sepak bola internasional menilai preseden ini berbahaya. Jika intervensi semacam ini dibiarkan, wasit bisa kehilangan wibawa di lapangan. “FIFA harus tegas. Kalau tidak, setiap negara besar bisa memanfaatkan pengaruh politik untuk memenangkan pertandingan,” kata analis olahraga ESPN.
Hingga berita ini diturunkan, Belgia belum mengajukan protes resmi ke FIFA. Namun, mereka mengancam akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) jika tidak ada transparansi penuh atas proses pencabutan kartu merah tersebut.