JAWA BARAT — Laporan The New York Times yang terbit pekan lalu mengungkap ambisi terbaru Mark Zuckerberg. CEO Meta itu disebut telah memberikan lampu hijau untuk pengembangan aplikasi prediksi pasar bernama “Arena”. Proyek ini digambarkan oleh sumber internal sebagai langkah eksperimental namun prioritas tinggi.
Berbeda dengan Polymarket atau Kalshi yang menggunakan mata uang kripto atau dolar AS, Arena versi awal akan beroperasi seperti permainan. Pengguna mendapat poin setiap kali berhasil memprediksi hasil suatu peristiwa dengan benar. Sumber yang sama menyebutkan opsi penambahan transaksi uang riil bisa saja dihadirkan di kemudian hari.
Langkah ini bisa menjadi celah bagi Meta untuk menghindari jerat hukum perjudian yang tengah membayangi industri prediksi pasar. Beberapa negara bagian di Amerika Serikat sudah menggugat platform seperti Polymarket dan Kalshi karena dianggap melanggar undang-undang anti-judi. Ironisnya, pemerintahan AS saat ini justru bersikap pro-prediksi pasar dan ikut menggugat negara bagian yang menggugat platform tersebut.
Dalam setahun terakhir, volume perdagangan di Polymarket dan Kalshi telah mencapai puluhan miliar dolar AS per April 2025. Angka fantastis ini mendorong raksasa media sosial lain, seperti X (Twitter), untuk menjalin kemitraan dengan Polymarket pada musim panas 2024. Meta kini ingin ikut ambil bagian dalam kue bisnis yang menggiurkan ini.
Namun, popularitas prediksi pasar juga memicu kontroversi dan masalah hukum. Seorang mantan tentara pasukan khusus dituduh memanfaatkan informasi orang dalam untuk bertaruh pada operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Mantan anggota Kongres AS, George Santos, juga sedang diselidiki atas dugaan transaksi ilegal di platform Kalshi.
Belum ada kepastian kapan aplikasi Arena akan dirilis secara global, apalagi di Indonesia. Regulasi perjudian dan transaksi keuangan di dalam negeri sangat ketat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) secara aktif memblokir platform yang berpotensi melanggar undang-undang perjudian dan lalu lintas devisa.
Jika Arena hanya beroperasi dengan sistem poin tanpa uang sungguhan, platform ini kemungkinan besar tidak akan masuk dalam kategori judi online. Namun, jika Meta menambahkan fitur transaksi uang di masa depan, hambatan regulasi di Indonesia bisa menjadi tantangan besar bagi peluncurannya secara resmi.
Proyek Arena adalah sinyal bahwa Zuckerberg serius menjadikan prediksi pasar sebagai lini bisnis baru Meta. Dengan pendekatan “gameifikasi” tanpa uang tunai di tahap awal, Meta mencoba menekan risiko hukum sambil tetap membangun basis pengguna. Bagi penggemar teknologi, ini bisa menjadi alternatif hiburan prediksi yang lebih aman. Namun, pengguna Indonesia sebaiknya menunggu kejelasan regulasi sebelum berharap banyak pada aplikasi ini.