Seorang entitas tak dikenal memulai rantai transaksi pada Kamis (12/6) dengan menerima 120,2 juta USDT di jaringan Tron. Dalam waktu singkat, dana itu dipecah dan dikirim ke berbagai arah: sebagian besar dibelanjakan untuk membeli Monero dalam jumlah besar, sisanya disebar ke bursa, layanan swap instan, dan blockchain lain.
Monero dikenal sebagai koin privasi yang menyembunyikan identitas pengirim dan penerima. Namun, likuiditasnya tipis. Ketika entitas tersebut memborong XMR dalam jumlah besar, harga langsung tersungkur naik — dari US$330 ke US$438 dalam sekejap.
Pada Jumat pagi waktu Eropa, XMR diperdagangkan di kisaran US$382, masih naik sekitar 8% dalam sehari. Fenomena ini menunjukkan bagaimana satu pembeli besar bisa mengguncang pasar koin yang volumenya rendah.
ZachXBT melacak lebih dari US$12 juta mengalir ke alamat deposit bursa KuCoin. Sekitar US$8 juta lainnya masuk ke layanan swap instan — alat yang memungkinkan konversi antar-koin secara cepat dan sering tanpa verifikasi identitas. Sebanyak US$8 juta dipindahkan dari Tron ke jaringan Bitcoin dan Ethereum melalui Near Intents, sebuah alat swap lintas rantai.
Pola ini klasik dalam dunia pencucian uang kripto: menyebar dana ke berbagai aset, bursa, dan blockchain untuk memutus jejak investigasi.
Langkah Tether menjadi titik balik. Perusahaan penerbit stablecoin USDT itu membekukan alamat yang menampung 72 juta USDT milik entitas tersebut. Begitu dibekukan, token itu tidak bisa dipindahkan atau dicairkan.
ZachXBT menyebut pola pergerakan dana — cepat masuk ke koin privasi, disusul swap instan dan lompatan lintas blockchain — adalah ciri khas pencucian uang. Keputusan Tether membekukan dana mengonfirmasi kecurigaan itu.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui dari mana asal 120,2 juta USDT tersebut. Tidak ada peretasan bursa besar atau kebocoran dompet yang dilaporkan dalam waktu dekat. Namun, skala dan kecepatan pergerakan dana menunjukkan bahwa entitas di balik transaksi ini memiliki akses ke likuiditas besar dan pemahaman teknis yang mendalam tentang sistem kripto.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa meskipun blockchain bersifat transparan, alat seperti Monero dan swap instan masih menyisakan celah bagi aktivitas ilegal — dan bahwa stablecoin seperti USDT bisa menjadi alat pengawasan sekaligus sasaran pembekuan.