JAWA BARAT — Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS dan mengalami pelemahan sebesar 89 poin atau 0,52 persen pada pukul 9.45 WIB. Sebelumnya, rupiah juga tercatat melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang Asia lainnya juga mengalami penurunan, seperti yuan China yang turun 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,50 persen, dan yen Jepang yang terdepresiasi 0,22 persen. Di sisi lain, hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa kondisi ini mencerminkan harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin meredup. "Harga minyak mentah dunia yang masih tinggi turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," jelasnya. Penantian pengumuman MSCI yang diharapkan tidak membawa kabar baik bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turut menjadi faktor sentimen negatif bagi rupiah.
Investor kini menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis pada siang hari ini. "Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG dan akan ikut menekan rupiah," kata Lukman. Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Dari sisi pasar, pelemahan rupiah ini dapat berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat. Para pelaku bisnis dan investor diharapkan untuk memantau perkembangan ini secara cermat, mengingat kondisi global yang terus berubah serta pengaruhnya terhadap pasar domestik.