JAWA BARAT — Larangan melintas di pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa, Jepang, berlaku untuk seluruh kendaraan BYD, termasuk taksi dan kendaraan niaga. Kekhawatiran utamanya bukan soal performa mesin, melainkan kamera dan sensor yang dianggap bisa menangkap informasi sensitif. Aturan ini muncul setelah BYD masuk daftar perusahaan yang oleh Pentagon dinilai mendukung militer China.
Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, yang berjarak sekitar 1.000 mil barat daya Tokyo, menutup akses bagi semua kendaraan BYD. Kebijakan tersebut mencakup mobil pribadi, taksi, hingga kendaraan niaga yang beroperasi di sekitar fasilitas militer Amerika Serikat di Jepang.
Letnan Kolonel Alli Stormer dari pangkalan Kadena menyebut alasan larangan ini menyangkut risiko keamanan yang dinilai tidak bisa ditawar. "Kendaraan-kendaraan ini menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dihindari bagi personel dan misi kami," ujarnya, seperti dikutip Carscoops.
Stormer tidak merinci pemicu pasti kebijakan tersebut. Laporan yang beredar menyebut kamera dan sensor yang terpasang di mobil, truk, dan SUV BYD modern diyakini mampu menangkap informasi militer sensitif dari area pangkalan.
Kekhawatiran ini bukan hal baru di dunia otomotif. Pada 2021, kendaraan Tesla sempat dilarang memasuki sejumlah lokasi pemerintahan China. Larangan itu baru dicabut pada 2024 setelah Tesla buatan Tiongkok memenuhi persyaratan keamanan data negara tersebut.
Langkah pangkalan Kadena menyusul masuknya BYD ke dalam daftar perusahaan yang menurut Pentagon mendukung militer China. Daftar itu juga memuat Nio, raksasa e-commerce Alibaba, dan perusahaan teknologi Baidu.
Di pasar Amerika Serikat sendiri, mobil merek China praktis tidak tersedia karena tarif tinggi dan pembatasan perangkat lunak. Polestar di bawah payung Geely, misalnya, terpaksa keluar dari Amerika setelah model tahun 2026 akibat masalah perangkat lunak. Padahal Polestar merakit mobilnya di pabrik Ridgeville, Carolina Selatan.
Beberapa anggota parlemen AS kini mendorong undang-undang yang akan melarang mobil-mobil Tiongkok masuk ke pasar negara itu secara permanen.
BYD sendiri sedang agresif memperluas penetrasi di Indonesia, dengan lini mobil listrik yang menyasar konsumen ritel maupun armada. Kebijakan di Okinawa tidak langsung berdampak pada operasional BYD di pasar lokal, tetapi sinyalnya jelas: pengawasan terhadap kendaraan terhubung internet asal China makin ketat di kawasan militer sekutu AS.
Bagi konsumen Indonesia, isu ini lebih relevan sebagai catatan soal privasi data kendaraan modern. Kamera 360 derajat, sensor parkir, dan konektivitas cloud yang jadi fitur jualan utama mobil listrik juga berarti kendaraan menyimpan dan mengirim data dalam jumlah besar.