BANDUNG — Ketua Umum Perwatusi Anita A. Hutagalung menyebut osteoporosis lebih banyak dialami perempuan dibanding pria. Perbandingannya, 1 dari 5 wanita berpotensi terkena osteoporosis, sementara pada pria 1 dari 7.
"Kalau ditaksir itu, 1 dari 5 wanita bisa terkena osteoporosis. Sementara pria itu perbandingan 1 dari 7. Memang wanita lebih rentan," kata Anita saat jumpa pers menjelang peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026, Sabtu (24/10).
Anita menjelaskan osteoporosis nyaris tanpa gejala yang tampak. Dampaknya baru terasa ketika penderitanya mengalami jatuh ringan dan langsung patah tulang.
Kondisi itulah yang membuat Perwatusi menempatkan pencegahan sebagai prioritas. Osteoporosis terjadi karena berkurangnya kepadatan dan kekuatan tulang, dan prosesnya bisa diperlambat bila aktivitas fisik ditingkatkan sejak usia muda.
Salah satu agenda HON 2026 di Kabupaten Bandung adalah senam massal. "Nanti ada juga edukasi pencegahan dari para ahlinya," ujar Anita.
Perwatusi menegaskan osteoporosis tidak hanya mengancam usia lanjut. Anak muda hingga anak-anak masuk dalam kelompok yang perlu diwaspadai.
"Makanya kami ingin kegiatan tak berhenti di sini, tapi akan terus bergerak ke kota kabupaten," kata Anita.
Ia juga menegaskan Perwatusi adalah organisasi nirlaba yang tidak berpolitik. Kehadiran organisasi ini murni atas dasar kepedulian terhadap penyakit osteoporosis.
DPC Perwatusi Cirebon dr. Lusiana menambahkan osteoporosis terjadi karena kurangnya asupan kalsium ke tubuh. Pencegahan yang dianjurkan adalah olahraga tepat disertai penambahan asupan gizi atau suplemen.
Selain kekurangan gizi, osteoporosis juga dipicu faktor genetika dan konsumsi obat berkelanjutan. Dua faktor ini membuat sebagian orang lebih rentan meski asupan makanannya cukup.
Peringatan HON 2026 di Bale Rame Kabupaten Bandung pada Minggu (25/10) menjadi titik awal perluasan edukasi Perwatusi ke sejumlah kota dan kabupaten lain di Jawa Barat.